Namun, medan pencarian bukan tanpa bahaya. Lokasi tenggelamnya kapal dikenal sebagai habitat buaya muara, yang menambah risiko besar bagi tim penyelamat. Selain itu, kondisi alam juga tidak bersahabat: cuaca berawan, angin berkecepatan 9 meter per detik dari arah barat daya, serta ombak setinggi 0,2 meter menghambat proses pencarian.
“Kondisi perairan menjadi tantangan tersendiri karena merupakan habitat buaya. Kami tetap berupaya maksimal meski cuaca dan medan sulit,” tutur Aurelius menegaskan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda keberadaan delapan korban. Tim SAR berkomitmen melanjutkan operasi pencarian selama 7 hari ke depan dengan harapan menemukan korban, hidup atau meninggal.
Peristiwa ini menambah daftar panjang musibah kapal pengangkut batu bara di perairan Kalimantan Timur, yang kerap kali terjadi akibat cuaca ekstrem dan overload muatan.(Wartabanjar.com/nurmuhammad)
editor: nur muhammad






