Demam Emas Guncang Asia! Harga Naik Gila-Gilaan, Ekonom Bongkar Potensi Untung-Rugi Besar Indonesia!
WARTABANJAR.COM, JAKARTA - Fenomena “demam emas” tengah melanda sejumlah negara Asia seperti Hong Kong dan Vietnam. Linimasa media sosial X (Twitter) pun ramai oleh unggahan antrean panjang masyarakat di toko-toko emas yang diserbu pembeli.
Salah satu warganet menulis, “Antrean beli emas di Hong Kong dan Vietnam rame banget. Kira-kira apa dampaknya ke Indonesia, selain buying rush?”
Tren ini dipicu oleh kenaikan harga emas global yang melonjak akibat ketidakpastian ekonomi dunia serta kebijakan tarif dan moneter yang memperketat pasar internasional.
Lantas, apakah fenomena “gold fever” ini bisa membawa berkah atau bencana ekonomi bagi Indonesia?
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menjelaskan bahwa harga emas dunia terus meningkat sejak awal 2024. Kenaikan ini, menurutnya, disebabkan oleh menurunnya kepercayaan global terhadap dolar AS sebagai mata uang cadangan utama (reserve currency).
BACA JUGA: DPR Dukung Prabowo: Dana Sitaan Korupsi untuk Beasiswa LPDP, Bukti Fokus Bangun SDM Unggul!
“Harga emas naik karena kepercayaan terhadap dolar AS mulai luntur. Banyak bank sentral kini menjual dolar dan mengalihkan cadangannya ke emas,” ujar Wijayanto, Selasa (21/10/2025).
Ia menambahkan, demam emas di masyarakat mulai terlihat sejak September 2025, didorong oleh ketidakpastian ekonomi global yang tinggi dan perilaku konsumen yang cenderung beralih ke aset aman (safe haven).
“Fenomena di Hong Kong dan Vietnam mencerminkan kegelisahan publik terhadap ekonomi. Ini bisa terus mendorong harga emas melejit,” jelasnya.
Indonesia Bisa Untung, Tapi Ada Risiko
Sebagai produsen emas terbesar ke-10 di dunia dengan produksi sekitar 100 ton per tahun, Indonesia berpotensi mendapat keuntungan tak terduga (windfall profit) dari kenaikan harga emas global.
Namun, Wijayanto mengingatkan bahwa demam emas di dalam negeri justru bisa membawa dampak negatif jika masyarakat terlalu agresif membeli emas dan menahan uang tunai.
“Fenomena ini menunjukkan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap prospek ekonomi. Jika terlalu banyak dana disimpan dalam bentuk emas, perputaran uang bisa melambat dan dunia usaha tertekan,” katanya.