Pengasuh Darul Musthofa Tarim Hadhramaut Yaman tersebut menegaskan, kasih sayang Allah tidak diukur dari panjangnya usia atau banyaknya harta, melainkan dari kedekatan hati kepada-Nya.

“Kadang yang kita anggap tragedi, di sisi Allah justru kemenangan. Dan yang kita anggap kenikmatan, justru bisa jadi bencana bagi iman kita,” tambahnya.

Diuji Agar Mengenal Tuhan

Habib Umar menegaskan, tugas manusia bukan menuntut Tuhan, melainkan mengenal, menerima, dan meneladani kasih-Nya.

“Akal diberikan agar manusia tahu siapa yang menciptakannya, untuk apa dia diciptakan, dan ke mana dia akan kembali,” ujarnya.

Tokoh muslim ke-11 paling berpengaruh di dunia tersebut menilai, banyak manusia modern kehilangan arah karena lebih sibuk mencari kesenangan dunia ketimbang mengenal penciptanya, sehingga memicu peningkatan ateisme di kalangan muda.

“Mereka kehilangan arah, kehilangan tujuan hidup. Padahal akal justru diberikan agar manusia tahu siapa Tuhannya,” kata Habib Umar. (wartabanjar.com/berbagai sumber)

Editor: Yayu