Langkah ini mempertegas sikap Beijing yang tak mentoleransi perbedaan persepsi terhadap peta wilayahnya, sekaligus mengirimkan pesan keras kepada pihak luar bahwa kedaulatan China adalah harga mati.

Tindakan penyitaan ini datang di tengah memanasnya ketegangan di Laut China Selatan. Seperti dilaporkan CNA, Selasa (14/10/2025), kapal penjaga pantai Filipina dan China kembali terlibat bentrokan di dekat Pulau Thitu, bagian dari Kepulauan Spratly yang diklaim kedua negara.

Filipina menuduh kapal penjaga pantai China sengaja menabrak kapal pemerintahnya, sementara Beijing menuding Manila memprovokasi dan mengabaikan peringatan keras.

Sementara itu, Amerika Serikat turun tangan, mengecam tindakan China yang dinilai “berbahaya dan mengganggu stabilitas kawasan”. Washington pun menegaskan dukungannya terhadap Filipina, sekutu lamanya di Asia Tenggara.

Situasi ini menambah panas konflik regional, dan langkah penyitaan peta dinilai sebagai strategi simbolik Beijing untuk memperkuat klaim wilayah sekaligus memperingatkan pihak asing agar tidak menantang posisi China.(Wartabanjar.com/Berbagai Sumber)

editor: nur muhammad