WARTABANJAR.COM – Tujuh warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi awak kapal MT SHI XING kini hidup dalam situasi mengenaskan di tengah laut. Lebih dari tiga bulan mereka terombang-ambing tanpa gaji, tanpa makanan layak, dan tanpa kepastian hukum.
Kisah pilu ini bermula sejak Mei 2025, ketika mereka dikirim dari Pelabuhan Belawan dengan janji bekerja di Malaysia. Iming-imingnya, mereka akan menerima gaji rutin dan surat PKL resmi setelah tiba di sana. Namun, janji tinggal janji. Kapal yang seharusnya berlabuh di Malaysia justru dialihkan ke perairan Myanmar, memutus seluruh akses komunikasi dan logistik.
Sejak Juli 2025, para awak kapal tidak lagi menerima gaji. Persediaan bahan makanan semakin menipis. Bahkan, salah satu dari mereka kini menderita sakit maag akut akibat kelaparan dan stres berat.
“Kami sudah lapor ke Kemenlu, mohon bantuan agar bisa dievakuasi. Tapi sampai sekarang belum ada kepastian dari KBRI,” keluh salah satu awak melalui pesan yang berhasil diterima wartabanjar.com, Senin (13/10/2025).
Sementara itu, pemilik kapal MT SHI XING dikabarkan menghilang. Ia tak merespons pesan, bahkan diduga memanipulasi awak kapal agar tetap mengoperasikan kapal tanpa menerima bayaran.
Kondisi ini bukan hanya soal pelanggaran kontrak kerja — tapi soal nyawa dan martabat manusia yang terabaikan di laut lepas.
Seruan dari Netizen: “Tolong Mereka, Ini Tentang Kemanusiaan!”






