WARTABANJAR.COM, SIDOARJO – Suasana Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, berubah pilu pada Sabtu (4/10/2025) sore. Hujan belum reda ketika suara keras menyeruak dari arah musala utama — bangunan ambruk seketika, menimpa puluhan santri yang tengah beraktivitas di dalamnya.

Di antara kepanikan dan teriakan minta tolong, satu nama kemudian menjadi simbol perjuangan hidup: Nur Ahmad (22), seorang santri yang harus kehilangan lengan kirinya agar bisa tetap bernapas.

Detik-Detik Penyelamatan yang Menegangkan

Saksi mata menyebut suasana detik setelah ambruknya bangunan begitu kacau. Puluhan santri terjebak di bawah puing-puing beton. Tim gabungan Basarnas, BPBD, dan relawan datang bergantian untuk menggali reruntuhan dengan alat seadanya.

“Ahmad tertelungkup di bawah balok beton. Tangannya terjepit sangat dalam, nyaris tak bisa digerakkan,” ujar Rifqi, relawan evakuasi yang ikut di lokasi sejak menit pertama.

Ketika waktu sudah hampir habis dan reruntuhan mulai retak kembali, keputusan harus diambil. Tim medis di lapangan, dipimpin dr. Larona Hydravianto, ortopedi RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, memutuskan melakukan amputasi darurat di tempat — di antara debu dan reruntuhan.

BACA JUGA: DETIK-DETIK Emak Emak Tewas Mengenaskan Terlindas Truk BBM PT IKA di Jalan Gubernur Soebarjo

“Itu situasi pertaruhan nyawa. Kalau tidak diamputasi saat itu juga, Ahmad bisa kehilangan lebih dari sekadar lengan,” kata dr. Larona dalam wawancara dengan WartaBanjar, menahan haru.

Proses amputasi hanya berlangsung 10 menit, dilakukan tanpa fasilitas ruang operasi. Setelah berhasil dilepaskan, Ahmad segera dilarikan ke RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo dan dirawat intensif di ICU. Kondisinya kini dilaporkan stabil.

Korban Jiwa Terus Bertambah

Hingga malam hari, jumlah korban meninggal mencapai 13 orang, sementara lebih dari 100 santri berhasil diselamatkan. Proses pencarian masih terus berlangsung hingga Minggu pagi, karena dikhawatirkan masih ada korban tertimbun reruntuhan.

“Kami temukan korban dalam kondisi sangat mengenaskan. Sebagian besar berada di ruang salat dan asrama santri putra,” ungkap Komandan SAR Gabungan, Mayor (Inf) Supriadi.