WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN– Program digitalisasi retribusi pasar yang diluncurkan Perumda Pasar Baiman bekerja sama dengan Bank Negara Indonesia (BNI) ternyata menuai keluhan dari para pedagang.

Sistem pembayaran retribusi dengan Tapcash yang diharapkan mempermudah, justru dianggap merepotkan.

Salah satu pedagang bahan bangunan di Pasar Lima, Wilna, mengaku kesulitan dengan mekanisme pembayaran retribusi sebesar Rp2 ribu melalui Tapcash.

“Kalau tunai kan tinggal ambil uang di laci, langsung bayar. Kalau sistem ini, kalau saldonya habis harus isi ulang dulu, jadi ribet,” ujarnya, Selasa (30/9/2025).

Keluhan serupa juga disampaikan, pedagang sepatu di Pasar Baru, Nisa.

Ia menilai sistem digitalisasi ini mungkin masih bisa diikuti pedagang muda, namun berbeda dengan pedagang yang sudah berusia lanjut karena gagap teknologi (Gaptek).

“Banyak pedagang tua yang gaptek. Mereka pasti kesulitan. Apalagi kalau anaknya tidak ada di toko untuk membantu,” ungkapnya.

BACA JUGA: Tuntut Kemerdekaan Palestina, Pengunjuk Rasa di Seoul Lempar Sepatu ke Gambar Wajah PM Israel Benjamin Netanyahu

Sementara itu, Direktur Perumda Pasar Baiman Kota Banjarmasin, Abdan Syakura, menegaskan program ini merupakan inovasi untuk menyesuaikan perubahan budaya transaksi masyarakat setelah pandemi Covid-19.

“Sekarang sistem pembayaran serba digital. Jadi, kita harus merespon dengan menyediakan opsi praktis bagi pedagang,” ujarnya.

Namun, peluncuran program ini justru dinilai hanya sebatas seremoni, sebab kartu Tapcash hanya dibagikan kepada 499 pedagang sesuai angka Hari Jadi ke-499 Kota Banjarmasin.

“Peluncuran ini memang bertepatan dengan Harjad Banjarmasin,” tandas Abdan. (wartabanjar.com/Ramadan)

Editor: Yayu