PESTA RAKYAT DI SIRING! Ribuan Warga Banjarmasin Serbu 41 Wadai Banjar Gratis
WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN – Suasana Siring kawasan Makam Sultan Suriansyah, Rabu (24/9/2025), mendadak menjelma menjadi pesta rakyat terbesar tahun ini. Ribuan warga tumpah ruah sejak pagi, larut dalam euforia peringatan Hari Jadi (Harjad) ke-499 Kota Banjarmasin.
Di bawah deretan tenda kuliner, aroma khas Banua menggoda setiap indera. Dari ketupat kandangan, soto banjar, lontong sayur, hingga 41 macam wadai tradisional tersaji gratis untuk seluruh masyarakat. Sajian itu bukan sekadar makanan, melainkan simbol persatuan dan kekayaan budaya Banjar.
Warga pun rela antre panjang demi mencicipi kuliner legendaris ini. “Rasanya luar biasa, semua gratis dan enak. Jarang bisa makan ketupat kandangan sambil menikmati pemandangan sungai,” ujar Rahma, warga Kuin Utara, dengan wajah sumringah.

Ridwan, warga lainnya, mengaku seakan dibawa bernostalgia. “Ini pesta rakyat yang sebenarnya. Suasananya bikin hangat, seperti kembali ke masa kecil saat hajatan kampung,” ungkapnya.
Sementara Fitri, seorang ibu muda, menyebut perayaan kali ini terasa lebih spesial karena bisa dinikmati bersama keluarga. “Anak-anak senang sekali. Apalagi bisa coba kue-kue tradisional yang sekarang mulai jarang ditemui. Semoga setiap tahun ada acara seperti ini,” harapnya.
Wali Kota Banjarmasin H. Muhammad Yamin HR yang hadir di tengah keramaian menegaskan, pesta kuliner ini merupakan wujud rasa syukur sekaligus kedekatan pemerintah dengan rakyatnya.
“Ini perayaan untuk semua warga Banjarmasin. Makanan gratis ini bukan sekadar hidangan, tetapi simbol kebersamaan dan kekeluargaan,” tegasnya.
Tak hanya pesta kuliner, suasana Harjad semakin semarak dengan iringan musik panting, tarian tradisional Banjar, hingga lomba syair Banjar yang membuat warga semakin bangga dengan identitas budaya mereka.
Perayaan Harjad ke-499 ini menjadi bukti nyata bahwa Banjarmasin bukan hanya Kota Seribu Sungai, tetapi juga kota penuh tradisi, rasa syukur, dan kebersamaan.(Wartabanjar.com/Ramadan)
editor: nur muhammad