DUNIA GEGER! Tentara Israel Bongkar Luka Batin saat Serang Gaza: "Kami Sakit Jiwa, Teman Kami Bunuh Diri"
WARTABANJAR.COM – Di balik seragam baja dan deretan senjata canggih, tentara Israel menyimpan rahasia kelam: luka batin yang tak terlihat mata. Pemandangan mengejutkan terjadi ketika sekelompok tentara berdiri di hadapan parlemen Israel, membawa tumpukan obat-obatan psikiatri sebagai bukti nyata derita mereka.
Dengan suara bergetar, seorang tentara berkata lantang:
“Kami sakit jiwa. Teman kami mengakhiri hidup.”
Kata-kata itu seketika mengguncang ruangan dan menyebar bak petir ke seluruh dunia.
Angka Bunuh Diri Tertinggi dalam Satu Dekade
Laporan terbaru mengungkap fakta mengerikan: angka bunuh diri di tubuh militer Israel mencapai titik tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Tekanan mental, trauma perang, hingga rasa bersalah diyakini menjadi pemicu utama.
Seorang prajurit bahkan mengaku:
“Kami dikirim bertarung, tapi yang mati duluan adalah jiwa kami.”
Fakta Mengejutkan: Konsumsi Fentanyl
Obat yang ditunjukkan para tentara bukan sekadar pil penenang biasa. Fentanyl, opioid yang 50 kali lebih kuat dari morfin, biasanya hanya diberikan untuk pasien dengan sakit parah. Fakta bahwa tentara mengonsumsinya menandakan betapa berat penderitaan mental yang mereka alami.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah ini hanya masalah internal militer Israel, atau justru tanda bahwa perang yang berkepanjangan telah benar-benar kehilangan makna?
Temuan Data Resmi
Pernyataan resmi IDF ke Knesset (parlemen Israel)
IDF mengakui ada peningkatan kasus bunuh diri di antara tentara.
Sejak awal 2025, ada 16 kasus bunuh diri yang dikonfirmasi oleh militer.
Jumlah ini dibanding dengan 21 kasus seluruh tahun 2024.
Laporan media berdasarkan data militer
Haaretz melaporkan bahwa hampir 50 tentara Israel bunuh diri sejak perang Gaza dimulai (Oktober 2023).
Tahun 2023: ~17 kasus. Tahun 2024: ~24 kasus. Tahun 2025 hingga sekarang: ~16 kasus.
Media menyebut banyak kasus bunuh diri diantara tentara cadangan (reservists) terutama yang terlibat dalam operasi di Gaza.
Keterbatasan infrastruktur kesehatan mental
Diakui ada kekurangan profesional kesehatan mental tentara (psikiater, psikolog, pekerja sosial) untuk menangani kebutuhan psikologis di militer.
Layanan rehabilitasi diperluas dan hotline dukungan dijalankan, namun masih banyak yang menyebut bahwa aksesnya belum mencukupi.