Bahkan, kata Rezqa, sang dosen pernah mendorongnya untuk mencoba mengolah sabun batang berbahan dasar eco enzim.
“Beliau menyuruh saya untuk membuat sabun batang eco enzim. Cuma sampai sekarang belum saya coba lagi karena ada beberapa kesibukan lain,” tambahnya.
Menurut Rezqa, eco-enzim bukan hanya bermanfaat untuk kesehatan dan kebutuhan rumah tangga, tapi juga membantu mengurangi pencemaran lingkungan.
Limbah organik yang biasanya menumpuk di tempat pembuangan sampah dapat diolah sehingga mengurangi potensi gas metana yang berbahaya.
“Eco-enzim ini serbaguna, bisa untuk membersihkan rumah, menjaga kesehatan, hingga mengurangi limbah. Saya berharap masyarakat makin mengenal eco-enzim dan mau memanfaatkannya,” kata Rezqa.
Rezqa sendiri sudah beberapa kali menjadi narasumber pelatihan eco-enzim, seperti di Desa Karau, Sungai Getal, dan Pa’au. Ia juga kerap membantu memanen eco-enzim di sekolah-sekolah sebagai bagian dari proyek pengolahan limbah organik.
Meski mengaku sempat merasa gagal karena kurang aktif menyuarakan eco-enzim, Rezqa tetap berkomitmen melanjutkan gerakan ini.
“Saya senang sekali kalau ada yang minta saya mengajarkan cara membuat eco-enzim. Itu gratis, saya ikhlas. Mudah-mudahan gerakan ini bisa terus berkembang,” harapnya. (wartabanjar.com/Adew)
Editor Restu







