WARTABANJAR.COM, BARABAI – Rezqa Maulida, seorang pemuda asal Desa Taras Padang, Hulu Sungai Tengah (HST), memilih jalan hidup yang berbeda dari kebanyakan anak muda lainnya.
Ia menekuni pembuatan eco-enzim, cairan serbaguna hasil fermentasi limbah organik, sebagai bagian dari gaya hidup sehat sekaligus upaya peduli lingkungan.
Rezqa mengaku awalnya hanya mengenal eco-enzim dari pelatihan daring yang diadakan Palang Merah Indonesia (PMI) pada 2020–2021.
Namun saat itu ia belum terlalu tertarik. Ketertarikan barunya muncul setelah merasakan langsung manfaat eco-enzim dalam kehidupan sehari-hari.
“Awalnya saya coba untuk menghilangkan bau kotoran kucing di rumah. Begitu disemprot eco-enzim, bau langsung hilang. Dari situ saya percaya manfaatnya,” ungkap Rezqa, Minggu (14/9/2025).
Tak berhenti di situ, ia juga merasakan manfaat lain, seperti untuk mengurangi bau badan, mencuci pakaian, bahkan sebagai pengganti sabun atau sampo dengan cara dicampur.
“Khasiatnya luar biasa. Walaupun stok di rumah tidak banyak, saya selalu berusaha ada eco-enzim,” tambahnya.
Ia mengaku semakin tertarik menggeluti eco enzim setelah merasakan langsung manfaatnya. Ketertarikan itu makin kuat ketika ia mendapat bimbingan dari salah satu dosennya, Dra. Nanik Puspitasari, yang selalu memberi dukungan dan motivasi.
“Setelah merasakan manfaatnya, akhirnya saya tertarik dan diajarkan langsung oleh Ibu Dra. Nanik Puspitasari. Beliau salah satu orang yang selalu mendukung dan mensupport saya untuk terus membuat dan melestarikan eco enzim,” ungkap Rezqa.







