WARTABANJAR.COM, LISBON – Hasil penyelidikan awal atas kecelakaan maut kereta gantung legendaris Elevador da Glória di Portugal mulai terkuak. Tragedi yang menewaskan 16 orang dan melukai 21 lainnya itu disebut sebagai salah satu insiden transportasi terburuk sepanjang sejarah Lisbon. Dilansir dari AP, Minggu (7/9/2025), tragedi terjadi pada Rabu lalu ketika kabin baru menempuh jarak sekitar 6 meter. Tiba-tiba, kereta gantung yang menuruni bukit kehilangan keseimbangan dan meluncur tak terkendali sebelum menghantam gedung dengan kecepatan 60 km/jam. Seluruh rangkaian peristiwa itu hanya berlangsung 50 detik mencekam. “Masinis sempat mengaktifkan rem pneumatik dan rem tangan, tetapi tidak mampu menghentikan laju kabin yang terus melaju semakin cepat,” tulis laporan resmi Biro Investigasi Kecelakaan Udara dan Kereta Portugal (GPIAAF). BACA JUGA:DIHUJAT! Gegara Patung Iron Man Dikira Jarahan di Rumah Sahroni, Sekarang Eko Purnomo Banjir Orderan Penyelidikan awal menemukan adanya kabel putus pada titik sambungan dengan kabin yang bergerak ke atas. Sistem kereta gantung ini memang menggunakan dua gerbong yang saling terhubung dengan kabel pada katrol di puncak rel: satu gerbong naik, satu gerbong lain turun. Lebih mengejutkan, hasil investigasi menunjukkan bahwa kabel itu masih dalam usia pakai normal. Baru digunakan 337 hari dari total masa pakai 600 hari, dan pemeriksaan visual pada pagi hari kejadian tidak menemukan anomali. Hingga kini, otoritas belum memastikan jumlah pasti penumpang yang berada di dalam gerbong berkapasitas 40 orang itu, serta berapa korban yang berada di jalan saat kejadian. Dua penyelidikan independen sedang berlangsung: oleh GPIAAF dan kejaksaan Portugal. Laporan awal diperkirakan akan terbit dalam 45 hari ke depan. Penyelidik juga mengonfirmasi 11 warga negara asing termasuk di antara korban tewas, yakni tiga warga Inggris, dua Korea Selatan, dua Kanada, satu Prancis, satu Swiss, satu Amerika Serikat, dan satu Ukraina. Tragedi ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi Portugal, mengingat Elevador da Glória bukan hanya sarana transportasi, tetapi juga ikon wisata dunia yang telah beroperasi sejak abad ke-19.(Wartabanjar.com/berbagai sumber) editor: nur muhammad