DIHUJAT! Gegara Patung Iron Man Dikira Jarahan di Rumah Sahroni, Sekarang Eko Purnomo Banjir Orderan
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM – Jagat maya heboh setelah sebuah patung Iron Man realistis viral dan dikira sebagai barang jarahan dari rumah politisi Ahmad Sahroni saat aksi demonstrasi di Jakarta beberapa pekan lalu.
Padahal, patung seukuran manusia dewasa itu ternyata merupakan karya tangan Eko Purnomo, pengrajin cosplay asal Tulungagung. Alih-alih jarahan, patung tersebut adalah hasil kreasi otodidak Eko yang telah lama menekuni dunia pembuatan kostum dan patung karakter film.
Eko mengaku sempat kebanjiran hujatan karena dituding menjarah koleksi pribadi Sahroni. Namun, setelah ia melakukan klarifikasi lewat akun Facebook pribadinya, publik justru terpukau dengan karyanya.
“Alhamdulillah, di balik ujian kemarin, hari ini banyak banget orderan masuk sampai ngantri panjang. Rasanya pengen nangis bahagia,” ucap Eko penuh haru, Sabtu (6/9/2025).
Patung Iron Man karya Eko dibanderol sekitar Rp9 juta per unit, jauh lebih murah dibanding koleksi orisinal.
BACA JUGA:VIRAL! Ibu di Aceh Tersedu-sedu Usai Ditipu Beli Motor Online Rp 26 Juta di FB, Netizen: “Lucu, Tapi Sedih”
Dari Hobi Pandemi Jadi Bisnis Serius
Eko mulai menekuni kerajinan kostum cosplay sejak masa pandemi Covid-19. Ia memanfaatkan bahan sederhana, bahkan barang bekas, seperti sandal jepit, untuk menciptakan karakter futuristik ala Transformers.
Kini, karya-karyanya tak hanya dipajang, tetapi juga disewa untuk acara ulang tahun, pawai karnaval, hingga pertunjukan skala nasional. Setiap kostum dan patung buatannya dihargai mulai Rp6 juta hingga Rp9 juta.
Nama Eko melejit setelah patung Iron Man buatannya dikira jarahan Sahroni. Setelah klarifikasi, publik baru sadar bahwa semua karya di akun Facebook miliknya adalah hasil tangan kreatif Eko sendiri.
Kesalahpahaman itu justru jadi berkah: Eko kini makin dikenal luas dan orderannya kian membanjir. Dari sebuah hobi sederhana di rumah, ia sukses menjadikan karyanya sorotan nasional.(Wartabanjar.com/berbagai sumber)
editor: nur muhammad