Sejarah Panjang Masjid Agung Riadhusshalihin Barabai, Dari Gagasan Panglima Hingga Jadi Ikon Kota

Seiring berjalannya waktu, renovasi besar pun dilakukan untuk memperkokoh struktur dan memperindah arsitektur masjid.

“Renovasi besar mengubah wajah masjid ini. Kini, masjid berdiri megah dengan dua lantai dan mampu menampung hingga 10 ribu jemaah. Arsitekturnya terinspirasi dari gaya Timur Tengah, dengan dominasi warna hijau yang menenangkan,” ucapnya.

Ciri khas masjid ini terletak pada kubah besar yang indah, berpadu dengan menara tinggi yang menjulang.

Kubah menjadi simbol kebesaran sekaligus pusat perhatian, sementara menara difungsikan sebagai tempat mengumandangkan adzan.

BACA JUGA: DEMO HARI INI! #SelamatkanIndonesia Bergejolak di Jakarta, 17+8 Tuntutan Jadi Ultimatum ke Prabowo

“Keindahan kubah dan menara ini bukan hanya sekadar estetika, tetapi juga memiliki nilai spiritual. Dari sinilah syiar Islam dikumandangkan ke seluruh penjuru kota,” tambah Badra.

Selain arsitekturnya, masjid ini juga memiliki nilai sejarah yang mendalam.

Badra menegaskan bahwa berdirinya Masjid Agung Riadhusshalihin adalah buah dari kebersamaan, gotong royong, dan keikhlasan masyarakat HST.

“Masjid ini adalah bukti nyata semangat umat. Bukan hanya dibangun oleh pemerintah atau tokoh besar, tapi oleh seluruh masyarakat yang menyumbang apa yang mereka punya. Ada yang menyumbang uang, ada yang menyumbang tenaga. Semua demi berdirinya rumah Allah ini,” tuturnya.

Kini, lebih dari setengah abad sejak awal dibangun, Masjid Agung Riadhusshalihin terus menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus simbol persatuan masyarakat Barabai dan HST.

“Masjid ini warisan sejarah dan kebersamaan. Tugas kami sekarang adalah merawat, memakmurkan, dan memastikan masjid tetap menjadi pusat syiar Islam, pendidikan, dan dakwah. Masjid ini bukan sekadar bangunan, tetapi jantung spiritual masyarakat Barabai,” pungkas Badra. (wartabanjar.com/Adew)

Editor: Yayu