WARTABANJAR.COM, BARABAI– Berdiri kokoh di jantung Kota Barabai tepatnya di Jalan H. Damanhuri Barabai, Masjid Agung Riadhusshalihin menjadi salah satu ikon Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, dakwah, dan kegiatan sosial masyarakat.
Dengan kapasitas tampung hingga 10 ribu jemaah, masjid megah ini menyimpan sejarah panjang yang penuh makna.
Ketua Pengurus Badan Pengelola Masjid Agung Riadhusshalihin Barabai, H. Badra Quthnie Akbar, mengisahkan pembangunan masjid yang dimulai lebih dari setengah abad lalu, tepatnya pada tahun 1966.
“Pembangunan Masjid Agung Riadhusshalihin ini bermula dari gagasan Jenderal Amirmachmud yang saat itu menjabat sebagai Panglima Kodam X Lambung Mangkurat. Dalam kunjungannya ke Barabai, beliau menyampaikan keinginan mendirikan masjid besar sebagai pusat ibadah umat Islam di HST,” ujar Badra saat ditemui di Barabai, Jumat (5/9/2025).
Keinginan tersebut tidak sekadar wacana.
Saat itu juga, Jenderal Amirmachmud membeli sebidang tanah di kawasan strategis pusat kota seharga Rp1 juta yang kemudian diwakafkan untuk pembangunan masjid.
“Tanah yang dibeli dan diwakafkan inilah yang menjadi pondasi awal berdirinya masjid. Respon masyarakat sangat luar biasa, sehingga panitia pembangunan langsung dibentuk dengan melibatkan para ulama besar dan tokoh masyarakat setempat,” lanjutnya.
Panitia pembangunan kala itu dipimpin oleh K.H. Muhammad As’ad bin Haji Muhammad Yusuf sebagai ketua.
Ia dibantu oleh K.H. Abdul Hamid Karim sebagai wakil ketua, H. Bihdar Rasyidi sebagai sekretaris, serta H. Abdurahman, yang saat itu menjabat Komisaris Polisi dipercaya sebagai bendahara.
“Panitia inilah yang kemudian menggerakkan gotong royong masyarakat. Sumbangan datang dari berbagai pihak, ada yang berupa uang, material bangunan, bahkan tenaga. Semua bahu-membahu, karena semangatnya adalah membangun rumah Allah,” jelas Badra.
Pembangunan Dilakukan Bertahap
Menurutnya, pembangunan masjid dilakukan secara bertahap.
Pada awalnya, bangunan masjid masih sederhana, namun tetap menjadi pusat kegiatan umat Islam di Barabai.







