Moaz adalah jurnalis video freelance yang kerap mengirim karyanya ke Reuters. Ia awalnya tak bercita-cita menjadi jurnalis, namun merasa terpanggil untuk mendokumentasikan penderitaan Gaza.
Dengan peralatan terbatas, Moaz sering merekam hanya dengan ponsel. Selama lima bulan terakhir, ia banyak membuat video tentang anak-anak sakit dan korban luka. Tragisnya, Moaz meninggal saat tengah menyiapkan pertunangannya.
“Aslinya Moaz bukan jurnalis, tapi dia sangat mencintai pekerjaannya. Dia sangat sosial dan mudah berteman di mana saja,” ujar Adly Abu Taha, kakaknya.
Hussam al-Masri (48 Tahun)
Kamerawan Reuters ini memegang kamera pertamanya sejak 1993, mengikuti jejak ayahnya. Dikenal berani, ayah empat anak ini tetap meliput meski RS Nasser dikepung pasukan Israel.
Sebelum meninggal, Hussam tengah berjuang mengurus evakuasi medis istrinya yang sakit kanker.
“Sejak 1993, tidak ada satu hari pun dia tanpa kamera di sisinya,” kenang sang ayah, Ezz al-Din.
Gaza Berduka, Dunia Jurnalisme Kehilangan
Gugurnya lima jurnalis di RS Nasser bukan hanya tragedi bagi keluarga mereka, tetapi juga bagi kebebasan pers dunia. Dedikasi mereka menjadi bukti bahwa jurnalisme di Gaza dibayar dengan harga paling mahal: nyawa.(Wartabanjar.com/SoftWarNews/berbagai sumber)
editor: nur muhammad











