Meski dihantui rasa takut, Susi mengaku tak punya pilihan. Ia harus tetap berdagang demi menghidupi keluarganya di kampung.
“Ya Allah, saya ini ngeri banget. Kadang warga sekitar juga panik. Suasana bisa tiba-tiba ricuh,” tuturnya.
Doa untuk Para Demonstran
Susi menuturkan, pada kericuhan sebelumnya ia terpaksa bertahan hingga larut malam. Ia hanya bisa pasrah sambil mengingat anak-anaknya di kampung.
“Saya ini rakyat kecil, cuma bisa berdoa semoga anak-anak yang demo dilindungi Allah. Jangan sampai ada yang celaka, niat mereka kan baik, membela rakyat kecil,” katanya lirih.
Suasana Terus Memanas
Hingga menjelang sore, bentrokan di sekitar Jembatan Pejompongan masih berlangsung. Letupan kembang api bersahutan dengan tembakan gas air mata. Sementara itu, pedagang dan warga sekitar memilih bertahan dengan rasa waswas di tengah situasi yang semakin tak menentu.(Wartabanjar.com/berbagai sumber)
editor: nur muhammad













