Selain itu, Wali Kota Banjarbaru juga menyoroti sejumlah dampak sosial dan teknis yang ditimbulkan selama proses pengerjaan berlangsung. Salah satunya adalah akses jalan alternatif bagi warga yang terpengaruh proyek.
Menanggapi hal ini, BPJN mengonfirmasi pihaknya telah mencapai kesepakatan teknis dengan warga sekitar, termasuk terkait revisi gambar akses jalan. “Sore ini akan kami sampaikan kepada warga. Prinsipnya, sudah ada kesepahaman dan tidak ada kendala teknis berarti,” ujar Bustanul.
Sementara itu, untuk dampak sosial terutama di kawasan Jalan Kartika, warga mengusulkan sistem satu arah (one way) dengan pengawasan petugas di lapangan. Permintaan ini telah direalisasikan.
”Kami sudah tempatkan petugas di titik-titik rawan. Namun masih ada sebagian pengendara yang melawan arus. Ini yang masih terus kami pantau,” tambahnya.
Lebih lanjut, Bustanul mengatakan terkait dampak ekonomi, BPJN merencanakan diskusi lanjutan bersama warga pada Kamis (14/8/2025) mendatang.
Saat ditanya terkait kajian dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat, Bustanul menyampaikan hal tersebut telah masuk dalam perencanaan sejak awal.
”Karena kami sudah berada di tahap pelaksanaan, aspek seperti itu tidak lagi menjadi tanggung jawab kami secara langsung. Tapi perlu dipahami bahwa dampak terhadap aktivitas ekonomi, seperti pedagang yang terganggu adalah hal yang umum dalam proyek seperti ini. Kami tetap berusaha agar dampaknya bisa ditekan,” imbuh Bustanul.
Saat ini, progres perbaikan Jembatan Sei Ulin yang berada di Jalan A. Yani KM 31 telah mencapai 60 persen, melebihi target awal yang ditetapkan sebesar 47 persen. Tahapan yang tengah dikerjakan saat ini adalah pembuatan gelagar utama, di mana sebagian besar telah berhasil diselesaikan.
“Sebagian gelagar masih dikirim melalui jalur laut. Crane untuk pengangkatan ke tengah jembatan pun telah disiapkan. Jika seluruh komponen sudah sampai dan tersusun dengan baik, InsyaAllah kami optimistis pengerjaan bisa dipercepat,” tutup Bustanul. (wartabanjar.com/IKhsan)
Editor Restu







