Insiden ini menambah daftar panjang korban di tengah distribusi bantuan yang penuh kekacauan. Menurut Kantor Hak Asasi Manusia PBB, sejak 27 Mei 2025, tercatat setidaknya 1.373 warga Palestina tewas saat berusaha mendapatkan bantuan kemanusiaan di berbagai wilayah Gaza.
Dari jumlah tersebut, 859 orang tewas di sekitar titik distribusi bantuan yang dikelola oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), sementara 514 lainnya tewas di sepanjang rute konvoi makanan. Sebagian besar kematian disebut akibat tindakan militer Israel, yang dilaporkan sering menembaki warga yang tengah mengantre bantuan.
GHF Dibanjiri Kritik Internasional
GHF, lembaga penyalur bantuan yang mendapat dukungan dari Amerika Serikat dan Israel, terus menuai sorotan karena menjalankan distribusi tanpa koordinasi dengan PBB. PBB bahkan mempertanyakan netralitas GHF, menyebut operasi mereka sebagai bencana kemanusiaan yang tidak terkendali.
Meski GHF membantah tuduhan penembakan di titik-titik distribusinya, laporan dari lapangan menyebutkan hampir setiap hari terjadi bentrok dan kekerasan, termasuk penembakan oleh tentara Israel terhadap kerumunan warga yang kelaparan.
Hingga hari ini, pembatasan masuknya barang dan bantuan oleh Israel ke Jalur Gaza telah menyebabkan kelangkaan makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan pasokan medis yang sangat dibutuhkan rumah sakit. Perang yang telah berlangsung hampir 23 bulan ini telah menghancurkan sistem logistik dan layanan publik, meninggalkan jutaan warga Gaza dalam kondisi genting.(Wartabanjar.com/berbagai sumber)
editor: nur muhammad







