WARTABANJAR.COM, JAKARTA — Sekolah Rakyat 17 Surakarta menjadi harapan baru bagi seorang nenek berusia 73 tahun, Mbah Aina, yang selama 17 tahun terakhir mengasuh seorang anak yatim piatu bernama Aditya. Berkat program pendidikan gratis dari pemerintah, ia kini bisa melihat anak asuhnya melanjutkan sekolah dan mengejar cita-cita menjadi seorang tentara.

Kisah perjuangan Mbah Aina dimulai ketika ia menerima amanah untuk mengasuh Aditya sejak bayi. Awalnya, orang tua Aditya masih memberikan upah bulanan, namun seiring waktu mereka tak pernah lagi datang menjenguk. Sejak itu, seluruh tanggung jawab hidup dan masa depan Aditya berada di tangan sang nenek. Dengan penghasilan yang tidak menentu dari pekerjaan serabutan seperti mengumpulkan bunga kamboja di pemakaman, Aina tetap berusaha membiayai pendidikan Aditya hingga SMP.

Meski hidup dalam keterbatasan, semangat Aina untuk mendukung pendidikan Aditya tidak pernah surut. Ia bahkan sempat khawatir anak asuhnya harus bekerja di usia muda karena tidak mampu melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. Namun, nasib baik datang ketika ia mengetahui adanya program pendidikan gratis di SMA Sekolah Rakyat 17 Surakarta, yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto. Dengan bujukan penuh kasih, Aina berhasil meyakinkan Aditya untuk mendaftar.

Kini, Aditya tinggal di asrama Sekolah Rakyat dengan fasilitas makan dan pakaian gratis. Kehadiran sekolah ini meringankan beban finansial Aina sekaligus membuka jalan bagi Aditya untuk meraih cita-citanya menjadi tentara. Prestasi Aditya sejak SMP, mulai dari juara pencak silat hingga videografer terbaik, menjadi modal penting untuk menatap masa depan yang lebih cerah.

Bagi Aina, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga rumah baru yang memberi harapan. Ia berpesan agar Aditya tetap disiplin, menjaga pergaulan, dan menuruti arahan guru demi masa depan yang lebih baik. “Saya bilang, alhamdulillah kalau mau jadi tentara, nak. Nanti kamu bisa ikut Pak Presiden Prabowo,” ucapnya penuh harap.