Dalam interogasi, Jiao mengaku sudah berhubungan seks dengan 1.691 pria. Namun pihak berwenang menduga angka itu dibesar-besarkan. Polisi belum merilis jumlah pasti korban ataupun total pendapatan dari praktik ilegal ini.
Meski begitu, skala kejahatannya dianggap luar biasa besar, mengingat proses perekaman dan penyebaran konten dilakukan sistematis dan dengan niat mencari keuntungan.
4. Tidak Minta Uang, Cukup Dibawakan Hadiah
Uniknya, Sister Hong tidak pernah secara langsung meminta bayaran untuk aktivitas seksualnya. Sebagai gantinya, korban diminta membawa “hadiah kecil” seperti sekotak susu, buah-buahan, bahkan ada yang hanya memberi setengah botol minyak goreng.
Modus ini membuat para korban merasa tidak curiga dan menganggap pertemuan itu sukarela.
Sister Hong Ditangkap, Publik Terbelah
Polisi menangkap Jiao pada 5 Juli 2025, namun kasus ini baru mencuat setelah diberitakan oleh South China Morning Post pada 18 Juli. Penangkapan ini menuai respons publik yang terbelah.
Ada yang mengutuk keras aksi penyamaran dan pelanggaran privasi, namun ada pula yang mempertanyakan bagaimana korban bisa tertipu sedemikian rupa.
Kasus Sister Hong menjadi peringatan besar akan bahayanya identitas palsu di dunia maya, serta pentingnya verifikasi dan perlindungan privasi digital.(Wartabanjar.com/tiktok/x.com/detik/berbagai sumber)
editor: nur muhammad







