Ferrari Merosot, McLaren Melesat: Apa yang Salah di Musim Ini?
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, JAKARTA — Musim balap Formula 1 2025 menjadi tantangan berat bagi tim legendaris asal Italia, Ferrari. Meski sempat menunjukkan potensi di awal musim, Ferrari justru melempem di paruh kedua kalender balapan. Terbaru, mereka masih tertahan di posisi kedua klasemen konstruktor dengan raihan 222 poin, tertinggal jauh dari McLaren yang kini memimpin dengan 460 poin.
Selisih 238 poin tersebut menjadi cermin krisis performa yang tengah menimpa Ferrari sebuah tim yang membawa harapan besar untuk kembali ke puncak setelah beberapa musim paceklik gelar.
Dari Harapan ke Kekecewaan
Awal musim 2025 menyajikan optimisme tinggi bagi pendukung Ferrari. Masuknya Lewis Hamilton, juara dunia tujuh kali, diharapkan menjadi titik balik tim Kuda Jingkrak. Bersama Charles Leclerc, Ferrari disebut-sebut punya duet maut paling berpengalaman musim ini.
Namun kenyataan di lintasan berkata lain. Ferrari tak mampu mempertahankan konsistensi. Sejumlah kesalahan strategi, performa mobil yang tidak stabil, serta kegagalan memaksimalkan peluang saat lawan-lawan utama tergelincir menjadi faktor utama mereka tercecer.
Kekecewaan mencapai puncaknya setelah GP Kanada pada bulan Juni, di mana kedua pembalap Ferrari gagal finis dalam posisi strategis. Sejak saat itu, tekanan mulai meningkat, termasuk spekulasi soal posisi kepala tim Fred Vasseur yang dinilai tidak mampu membawa stabilitas.
McLaren Bangkit, Red Bull Konsisten, Ferrari Tertinggal
Sementara Ferrari terus mencari jawaban, McLaren justru mencuri perhatian. Kombinasi strategi jitu, mobil kompetitif, dan konsistensi di hampir setiap seri menjadikan mereka kandidat kuat peraih gelar konstruktor musim ini. Red Bull pun tetap bersaing di papan atas meski tak sekuat dua musim sebelumnya.
Ferrari sebaliknya, seperti kehilangan arah. Di saat tim rival tampil tenang dan fokus, Ferrari sering kali terjebak dalam polemik internal dan tekanan media Italia yang tak kenal ampun.
Apa Solusinya?
Beberapa pengamat menilai Ferrari terlalu tergesa-gesa berekspektasi tinggi di musim transisi. Mobil SF-25 yang dipakai musim ini dinilai masih butuh pengembangan lebih lanjut. Selain itu, tekanan besar terhadap Fred Vasseur justru bisa mengganggu kestabilan tim jika tidak dikelola dengan baik.
Toto Wolff, bos tim Mercedes, bahkan ikut angkat bicara dengan membela Vasseur. Menurutnya, Ferrari butuh memberi kepercayaan penuh dan waktu untuk sang manajer bekerja. “Kalau di Italia, menang kamu disanjung, kalah kamu dihakimi. Ini tim besar dengan tekanan luar biasa,” ujarnya.
Masih Ada Waktu, Tapi Tak Banyak
Musim masih menyisakan beberapa seri, dan secara matematis Ferrari belum tersingkir dari persaingan. Namun jika ingin menjaga reputasi sebagai tim elite F1, perbaikan menyeluruh perlu segera dilakukan dari strategi, pengembangan mobil, hingga komunikasi internal tim.
Jika tidak, musim ini bisa jadi hanya satu lagi cerita kehilangan peluang dalam sejarah panjang Ferrari. (berbagai sumber/aar)
Editor: Andi Akbar