Glamor Pulang dari Tanah Suci! Jamaah Haji Bombana Jadi Sorotan: “Ini Haji atau Fashion Show?”
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, BOMBANA – Momen kepulangan jamaah haji Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, tahun 2025 menjadi viral dan memancing perdebatan sengit di media sosial. Bukan karena drama atau insiden, melainkan karena penampilan para jamaah yang tampil begitu rapi, glamor, dan penuh perhiasan berkilau saat tiba kembali di kampung halaman.
Rombongan jamaah haji ini tampak memukau dengan busana yang tertata apik, bak tamu undangan pesta mewah. Penampilan mereka langsung menyita perhatian publik dan memicu pro-kontra di jagat maya.
Netizen Terbelah: “Pulang dari Haji atau Acara Fashion Week?”
Sebagian warganet mengkritik keras penampilan yang dinilai terlalu mencolok untuk sebuah momen spiritual:
“Di desa saya pulang haji cuma pakai seragam batik dari Kemenag.”
“Dari pakaian yang glamor berarti butuh validasi kalau harus dipanggil Haji 😐”
“Malah fashion show.”
“Kalau gelarnya dihilangkan, apakah mereka masih mau?”
BACA JUGA:PELAKU KORUPSI TERMUDA KPK! Nur Afifah Balqis Divonis 4,5 Tahun Penjara Usai Terima Suap Rp5,7 Miliar
Namun, tidak sedikit pula yang memilih memandang dari sudut pandang yang lebih bijak:
“Ambil positifnya saja. Mungkin itu bentuk rasa syukur dan tradisi daerah mereka.”
“Barokallahu fikum. Indahnya. Bahagianya.”
“Definisi berangkat berbahagia dan pulang juga berbahagia.”
“Alhamdulillah… semoga kita yang belum berhaji bisa segera berangkat. Aamiin.”
Tanggapan-tanggapan ini mencerminkan beragam pandangan masyarakat terhadap ekspresi religius dan budaya. Sebab setiap daerah di Indonesia memang memiliki cara tersendiri dalam menyambut kepulangan jamaah haji—dari yang sederhana hingga penuh perayaan.
Tradisi atau Gaya Hidup?
Fenomena ini membuka ruang diskusi luas: apakah kemewahan dalam ekspresi religius merupakan bentuk syukur, atau justru mencederai esensi spiritualitas? Banyak yang menganggap penampilan adalah bagian dari tradisi lokal, sementara yang lain menilai perlu lebih banyak kesadaran akan makna kesederhanaan dalam beribadah.
Di tengah kontroversi ini, harapan tetap sama—semoga doa-doa yang mereka panjatkan di hadapan Ka'bah menjadi berkah bagi seluruh umat, termasuk mereka yang belum mendapat kesempatan menjejakkan kaki di Tanah Suci.(Wartabanjar.com/_thinksmart.id/berbagai sumber)
editor: nur muhammad