WARTABANJAR.COM – Jangan kaget! Raja Mswati III dari Eswatini, salah satu negara kecil di Afrika bagian selatan, tercatat memiliki 15 istri sah dan 36 anak dari pernikahannya! Yang menarik, dalam setiap kunjungan kenegaraan, Raja Mswati III sering tampil bersama beberapa istrinya, bahkan tak jarang semuanya ikut serta dalam rombongan resmi. Penampilan spektakuler itu pun kerap menyedot perhatian media internasional. Inilah fakta terbaru dan menarik tentang Raja Mswati III, penguasa absolut terakhir di Afrika, dari negara kecil Eswatini (dulunya Swaziland): Raja Poligami: 15–16 Istri & Puluhan Anak! Raja Mswati III dikenal memiliki 15 istri secara resmi, meski beberapa sumber menyebut jumlahnya bisa mencapai 16. BACA JUGA:KRONOLOGI Anak Luka Parah di Mulut Kena Benang Layangan, Melintas Bersama Ibunya di Jembatan HKSN Dari pernikahan-pernikahan tersebut, ia memiliki sekitar 36 hingga 45 anak, tergantung sumber—misalnya 36 saat laporan Januari 2024 dan 45 menurut update media Afrika . Tradisi & Seleksi di Umhlanga Reed Dance Istrinya dipilih lewat tradisi Umhlanga, festival tari alang-alang tahunan. Dua istri pertamanya ditentukan oleh dewan kerajaan—setiap wanita lainnya bisa dipilih setelah terbukti bisa mengandung. Tradisi ini menarik kontroversi karena terdapat laporan tentang calon istri di bawah umur, seperti kasus umum di tahun 2000-an . Kehidupan yang Kontras & Dibuntuti Kritik Mswati III menyandang gelar sebagai kepala negara di Eswatini sejak 1986, memegang kekuasaan mutlak dan menetapkan kebijakan dengan dekrit. Gaya hidupnya mewah—dengan anggaran rumah tangga mencapai puluhan juta dolar per tahun—kontras dengan lebih dari setengah warga Eswatini hidup di bawah garis kemiskinan serta negara tersebut menghadapi tantangan kesehatan seperti HIV/AIDS . Apa intinya? Poligami kerajaan Eswatini bukan hanya soal tradisi: ini mencerminkan struktur kekuasaan absolut dengan warisan budaya dan politik yang kompleks. Sementara itu, ketimpangan sosial dan kritik global terus menyertai kepemimpinan raja, termasuk desakan pemerintah untuk reformasi demokratis dan perlindungan hak wanita dan anak.(Wartabanjar.com/The Economist/Britannica/news.bbc.co.uk/berbagai sumber) editor: nur muhammad