WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN – Bukannya menjadi tempat santai dan rekreasi keluarga, Taman Kelayan di Kota Banjarmasin kini justru disalahgunakan sekelompok remaja sebagai lokasi menghirup Lem Fox. Fenomena memprihatinkan ini membuat warga sekitar resah dan khawatir, terutama karena pelaku didominasi oleh anak-anak usia sekolah. Dari Anak SD hingga SMA, Nongkrong dan Ngelem di Gazebo Taman Menurut pengakuan salah satu warga setempat, Anang, taman ini kerap dipadati remaja setiap malam minggu dan hari libur. Mereka berkumpul di gazebo hingga larut malam dan diduga kuat tengah melakukan penyalahgunaan lem. “Biasanya datang malam minggu, ramai sekali. Saya pernah tegur, malah dimarahi balik. Bahkan ada yang mau ngajak berkelahi,” keluh Anang, Senin (7/7/2025). Tak hanya laki-laki, Anang juga menyebut ada remaja perempuan yang ikut terlibat, bahkan masih mengenakan seragam sekolah saat datang ke taman. Yang lebih mengejutkan, mayoritas dari mereka bukan warga lingkungan sekitar, melainkan dari luar RT. BACA JUGA:Kapolres Tanah Laut dan Forkopimda Latihan Menembak Bareng, Perkuat Sinergi demi Keamanan Daerah Sudah Dilaporkan Warga mengaku telah melaporkan aktivitas mencurigakan ini ke pihak kepolisian dan Satpol PP. Namun sayangnya, para remaja itu selalu berhasil kabur sebelum sempat ditindak. “Kadang ada patroli, tapi begitu petugas datang, mereka langsung lari. Jadi percuma juga,” ungkap warga lainnya. Kekhawatiran Meningkat Situasi ini membuat warga semakin khawatir akan masa depan generasi muda. Penyalahgunaan lem bukan hanya berbahaya bagi kesehatan, tapi juga bisa menjadi gerbang awal ke kecanduan zat adiktif lainnya. “Taman seharusnya jadi tempat yang aman dan sehat. Tapi sekarang malah jadi sarang anak-anak 'ngelem'. Sangat prihatin melihatnya,” ujar seorang ibu rumah tangga yang kerap berkunjung ke taman bersama anaknya. Warga berharap ada langkah tegas, sistematis, dan berkelanjutan dari pihak terkait agar Taman Kelayan kembali menjadi ruang publik yang bersih, aman, dan ramah anak.(Wartabanjar.com/Ramadan Anwar) editor: nur muhammad