WARTABANJAR.COM, PELAIHARI - Kepala Desa Sungai Bakar, Hadran, yang angkat bicara mengenai proyek embung di desanya yang dikeluhkan warga. Ia mempertanyakan fungsi embung yang dibangun dengan biaya fantastis tersebut, terutama setelah banjir besar yang baru-baru ini terjadi. Hadran berharap embung dapat menjadi solusi mengurangi dampak bencana, bukan justru menambah kekhawatiran. Senin 7 Juli 2025. Kepala Desa Hadran mengungkapkan bahwa embung yang dibangun sekitar tahun 2022 itu belum berfungsi optimal. Baca Juga Geger Temuan Bayi di Desa Tungkap "Belum dilaksanakan dengan penuh ditambah dengan adanya banjir yang baru-baru tadi, sehingga kami mempertanyakan fungsi seperti apa adanya embung itu," ujarnya. Menurutnya masyarakat berharap embung dapat membantu mengurangi dampak banjir. "Kami berharap dengan adanya embung itu sedikit banyaknya bisa membantu dalam hal masalah bencana," tambahnya. Salah satu masalah utama embung, jelasnya adalah tidak adanya tolak ukur atau mekanisme pengaturan air. "Karena di saat ini banyu itu sepertinya seperti biasa aja kadada tolak ukurnya dalam artian mengurangi daripada banjir," jelasnya. Ia juga menyoroti tidak berfungsinya alat pengukur air dan ketiadaan pintu buka tutup. "Alat pengukur banyu itu kadada fungsinya, buka tutupnya kadada, jadi seolah-olah banyu full masuknya," terangnya. Akibatnya, air masuk dan tertahan sepenuhnya tanpa kontrol, menyebabkan luapan yang signifikan saat hujan deras. Dampak banjir yang melanda desa baru-baru ini semakin memperkuat kekhawatiran Hadran. Ia menyebutkan bahwa beberapa rumah warga terdampak parah, bahkan ada yang hanyut. "Dalam artian masyarakat ada selalu terimbas dengan adanya banjir karena beberapa dampak banjir tadi ada 12 buah rumah yang terimbas bahkan ada yang satu buah larut tumbang rumah warga," ungkapnya. Hadran juga menyayangkan belum adanya manfaat embung bagi sektor pertanian, yang seharusnya menjadi salah satu tujuan pembangunan. "Kalau sampai saat ini belum ada untuk apa pembantuan di lahan pertanian belum ada hanya seputaran wilayah embung itu aja airnya itu pun kadang hanya apa sih embung itu sampai surut," jelasnya, menduga hal ini akibat terkikisnya tanah dari gunung yang memenuhi ruang embung. "Sehingga memenuhi daripada ruang embung itu tidak berfungsi secara tidak berfungsi sama sekali." Bahkan, rencana awal untuk pemanfaatan air embung bagi PDAM pun belum terwujud. Meski pengawasan kebersihan dan pengelolaan embung sudah diserahkan kepada pihak desa oleh BWS (Balai Wilayah Sungai), Hadran merasa pengawasan saat banjir masih belum optimal. "Pengawasan jika banjir ada mengontrol, manfaatnya belum ada," katanya. Ia menegaskan kembali bahwa meskipun diharapkan bisa mengurangi banjir, embung ini masih berdampak pada terjadinya banjir. Kepala Desa Sungai Bakar berharap ada kejelasan dan tindakan nyata dari pihak berwenang mengenai keberlanjutan fungsi embung ini. "Kami mempertanyakan adanya embung di Sungai Bakar ini kedepannya itu seperti apa menahannya, baik itu masalah ukuran banyu tadi atau seperti apa supaya banjir itu lebih ringan," pungkasnya, mengharapkan solusi konkret agar masyarakat tidak lagi selalu terimbas banjir. (Gazali) Editor Restu