WARTABANJAR.COM, PELAIHARI- Masjid Agung Syuhada Pelaihari, sebuah ikon religius dan sejarah di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, mengukir perjalanan panjang dari sebuah bangunan sederhana menjadi salah satu masjid termegah di Bumi Tuntung Pandang. Masjid ini tak hanya menjadi pusat peribadatan, tetapi juga saksi bisu perjuangan kemerdekaan. Kini masjid tersebut bertransformasi menjadi pusat kegiatan keagamaan dan ekonomi masyarakat. Informasi ini dihimpun tim Wartabanjar.com dari wawancara dengan H. Muhammad Redhy Rizani, Sekretaris Umum Badan Pengelola Masjid Agung Syuhada Pelaihari, dan H. Hairussadi, pengurus masjid lainnya, Jumat (27/6/2025). Awalnya bernama Masjid Jami Syuhada, bangunan ibadah ini berdiri di Jalan Pusaka, tepatnya di tepi danau, dengan konstruksi semi permanen berbahan dasar kayu ulin. "Mesjid Jami Syuhada dulu berfungsi selain untuk tempat peribadatan tetapi juga berfungsi sebagai tempat berkumpulnya para pejuang pergerakan kemerdekaan," ungkap H. Muhammad Redhy Rizani. BACA JUGA: 70 Ucapan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1447 H Penuh Makna, Siap Dibagikan ke Medsos Inilah yang melatar belakangi penamaan "Syuhada," yang bermakna perjuangan tanpa pamrih demi negara dan agama. Pada awal tahun 1935, para tokoh agama dan masyarakat berkumpul merencanakan pembangunan masjid yang lebih besar untuk menampung jemaah yang semakin banyak. "Secara tepatnya belum diperoleh data tanggal berdirinya Masjid Jami Syuhada, hanya dapat dipastikan mesjid ini didirikan pada bulan-bulan awal tahun 1935 yaitu antara Maret-Juni 1935," jelas Redhy. Salah satu momen bersejarah adalah kunjungan Wakil Presiden Mohammad Hatta atau Bung Hatta di masjid ini. Bung Hatta kala itu sempat melaksanakan Salat Jumat di masjid ini pada tanggal 11 Juli 1952. Transformasi besar terjadi ketika masjid dipindahkan ke lokasi saat ini, berkat adanya tanah wakaf. "Dulu karena bahan masih kayu ulin, sehingga gotong royong masyarakat masih terlihat. Kemudian setelah jemaah semakin banyak dipindah dengan adanya tanah wakaf kemudian di pindah ke lokasi yang sekarang," tutur Redhy. Pembangunan ulang yang megah dilakukan pada tahun 2000, memakan waktu sekitar enam tahun dengan dukungan hibah daerah. H. Hairussadi menambahkan, "Waktu itu Bupati H. Ardiansyah menganggarkan untuk dibangun masjid yang presentatif di Kabupaten Tanah Laut. Waktu itu Pemda memfasilitasi pembangunan di bidang fisik, nah kita masyarakat membebaskan lahan dari masyarakat, jaman kepemimpinan H. Ardiansyah," terangnya. Kini, Masjid Agung Syuhada berdiri dua tingkat dengan kapasitas mencapai 5.000 hingga 7.000 jemaah. Masjid ini tidak hanya megah secara fisik, tetapi juga memiliki tanah wakaf produktif, termasuk ruko, TK Al-Qur'an, dan rumah kos-kosan. Rencana Masa Depan dan Acara Keagamaan Ke depan, Masjid Agung Syuhada memiliki rencana ambisius, di antaranya adalah membangun perpustakaan masjid. "Tujuannya juga nanti, ingin mengumpulkan sejarah-sejarah terkait pembentukan masjid Agung Syuhada, karena masjid Agung Syuhada ini dibangun sebelum kemerdekaan 1935, jadi mungkin sejarah kota Pelaihari pun termasuk orang-orang yang ada di dalam pembentukan masjid Agung Syuhada," papar Redhy. Ia juga mengajak masyarakat yang memiliki foto atau dokumen terkait sejarah masjid untuk berbagi. Perpustakaan ini direncanakan akan ramah anak, dengan koleksi dan fasilitas yang menunjang. Selain itu, pengelola masjid berencana menghidupkan kembali majelis taklim mingguan atau bulanan. "Karena pada waktu dulu majelis mingguan yang setiap hari Rabu jemaahnya membludak sampai ribuan," kenang Redhy. Ini menjadi semangat baru untuk kembali mengundang penceramah atau guru dari luar kota Pelaihari. Masjid Agung Syuhada juga mengundang masyarakat untuk menghadiri Tabligh Akbar dalam rangka Gema Muharram, Peringatan Tahun Baru Islam 1447 Hijriyah, bersama Ustadz H. Ilham Humaidi, Khodimul Majelis As Shofa Banjarmasin. Acara ini akan dilaksanakan pada Ahad, 29 Juni 2025, pukul 14.00 WITA (Ba'da Zuhur) di Masjid Agung Syuhada Pelaihari. (Gazali) Editor: Yayu