“Respect untuk dokter gigi yang masih mau percaya dan mempekerjakannya. Dukungan sosial sangat penting untuk mantan narapidana.”
Beberapa komentar hadir dengan nada ringan:
“Kopi ini rasanya BOMbastis sekali,” tulis seorang warganet berseloroh.
Namun, tak semua menyambut positif. Sebagian merasa langkah Umar membuka usaha kopi belum tepat secara etika:
“Menyakiti hati keluarga korban.”
“Bagaimana perasaan keluarga yang terbunuh oleh bom melihat ini?”
Ada pula yang menyoroti latar belakang radikalisme:
“Kemiskinan dan kelaparan jadi kerangka utama radikalisme dalam pola pikir, sikap, dan tindakan. Semua agama mengajarkan kebaikan.”
Sebagian lainnya menyoroti semangat para mantan narapidana:
“Saya juga mantan napi. Susah cari kerja, dapat kepercayaan, dan lawan cibiran. Tapi saya bangkit jadi wirausahawan jualan bakso dan mie ayam. Mantan napi bukan berarti hidup harus berakhir.”
Kisah Umar Patek memang menjadi simbol transformasi yang kompleks. Di satu sisi, ia mencoba menebus masa lalu dan membangun kembali hidupnya. Di sisi lain, bayang-bayang tragedi bom Bali masih membekas di hati para korban dan masyarakat.(Wartabanjar.com/kompascom/theguardian.com/news.com.au/berbagai sumber)
editor: nur muhammad







