WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN – Tak banyak yang tahu bahwa kain sasirangan, warisan budaya khas Kalimantan Selatan, dulunya bukan hanya berfungsi sebagai busana, tetapi juga sebagai media pengobatan tradisional masyarakat Banjar.
Hal ini diungkapkan oleh Ema Rahima Misbah, pemilik toko Galuh Bungas Sasirangan yang berada di Kampung Sasirangan, Banjarmasin, pada Sabtu (17/5/2025).
“Dulu kain sasirangan dibuat sesuai kebutuhan pengobatan. Kata orang Banjar, kain ini bisa dipakai untuk menyembuhkan sakit kepala, penyakit kuning, bahkan untuk orang yang sering ‘diganggu’ secara nonmedis,” ujar Ema.
Menurutnya, proses pembuatan kain sasirangan di masa lampau sangat erat kaitannya dengan kepercayaan dan ritual tradisional masyarakat Banjar.
BACA JUGA:Kampung Sasirangan: Jejak Panjang dan Napas Kain Tradisional Banjarmasin
“Bahan kain dan motifnya disesuaikan dengan jenis penyakit. Setelah dijahit jelujur, kain kemudian diwarnai. Proses inilah yang menjadi cikal bakal teknik sasirangan yang dikenal saat ini,” jelasnya.
Salah satu bentuk sasirangan yang sering digunakan untuk pengobatan adalah laung atau ikat kepala.
“Kalau sakit kepala, biasanya memakai laung. Bentuknya bisa segitiga atau sekadar ikat biasa, tergantung kebutuhan. Dulu itu sudah jadi hal umum,” imbuhnya.
Seiring perkembangan zaman, fungsi pengobatan kain sasirangan memang mulai ditinggalkan. Namun, nilai budaya dan seni dalam pembuatannya tetap dijaga. Kini sasirangan menjelma menjadi ikon fashion khas Banjar yang mendunia—mulai dari pakaian, aksesori, hingga suvenir.







