WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN – Di jantung Kota Banjarmasin, berdiri sebuah kawasan yang telah menjadi simbol budaya Banjar: Kampung Sasirangan. Terkenal sebagai pusat pengrajin kain khas Kalimantan Selatan, kawasan ini menyimpan sejarah panjang yang berakar jauh sebelum mendapat namanya yang sekarang. Nama "Kampung Sasirangan" sendiri baru resmi digunakan sejak awal tahun 2000-an, sebagaimana diceritakan oleh Ema Rahima Misbah, pemilik toko Galuh Bungas Sasirangan. "Karena di sini banyak pengrajin sasirangan, pemerintah akhirnya memberi nama Kampung Sasirangan untuk memudahkan identifikasi," ujar Ema saat ditemui pada Sabtu (17/5/2025). Namun, warisan budaya ini telah ada jauh sebelumnya. Menurut Ema yang merupakan generasi keempat dari keluarga pengrajin, kegiatan membatik sasirangan di kampung ini sudah berlangsung sejak era 1980-an hingga 1990-an. BACA JUGA:COMEBACK BRUTAL! Barito Unggul Duluan, PSM Makassar Bangkit dan Libas Laskar 4-1 di Demang Lehman Proses Panjang, Kolaborasi Komunitas Pembuatan kain sasirangan bukanlah proses sekejap. Mulai dari menjelujur (menjahit pola), melukis motif, hingga pencelupan warna—semuanya membutuhkan waktu, ketelatenan, dan tenaga dari banyak orang. "Saya melukis sendiri, tapi proses menjelujur dan pencelupan dibantu oleh pekerja lain. Tidak mungkin dikerjakan sendirian," jelas Ema. Untuk menyelesaikan satu kain, bisa memakan waktu hingga dua minggu. Bahkan untuk pesanan dalam jumlah besar seperti 100 lembar, diperlukan kerja sama tim yang solid. Terpuruk saat Pandemi, Bangkit Lewat Digitalisasi Seperti banyak sektor lain, industri kain sasirangan juga sempat terpukul keras saat pandemi COVID-19. "Dulu banyak pesanan dari sekolah, kantor, dan wisatawan. Tapi saat COVID, terutama wisatawan, sangat berkurang," kenangnya. Namun dalam dua tahun terakhir, perlahan permintaan mulai pulih. Terlebih, Kampung Sasirangan yang letaknya strategis dekat kawasan wisata seperti Siring Sungai Martapura dan Menara Pandang, membuatnya kembali ramai dikunjungi wisatawan lokal dan luar daerah. Merambah Pasar Digital hingga Internasional Tidak ingin tertinggal oleh zaman, Ema juga aktif memasarkan produknya secara online, baik melalui e-commerce lokal seperti Shopee, maupun platform internasional seperti Alibaba. "Kami ingin menjangkau pasar yang lebih luas, terutama dari luar daerah dan luar negeri," katanya optimis. Harga dan Ragam Motif Motif kain sasirangan yang ditawarkan pun beragam—dari desain klasik seperti motif bunga, hingga motif modern yang disesuaikan dengan selera pasar. Soal harga, bervariasi tergantung bahan, mulai dari Rp100 ribu untuk bahan katun hingga Rp1,5 juta untuk kain berbahan sutra premium. Sekilas Tentang Kampung Sasirangan: Lokasi: Banjarmasin, Kalimantan Selatan Dikenal sejak: Resmi dinamai sekitar tahun 2000 Daya tarik: Pusat pengrajin kain sasirangan, dekat objek wisata Siring dan Menara Pandang Produk andalan: Kain sasirangan berbagai motif dan bahan Pasar: Lokal hingga internasional Kampung Sasirangan bukan hanya kawasan produksi kain, tapi juga penjaga budaya dan penggerak ekonomi kreatif lokal. Warisan ini membuktikan bahwa tradisi bisa terus hidup dan berkembang, bahkan hingga menembus batas dunia digital dan pasar global.(Wartabanjar.com/Ramadan) editor: nur muhammad