VIDEO - Bangkai Pesawat Merpati Berlogo Pemkab Kotim Dijual Rp 800 Juta, Warganet Soroti Transparansi Aset
Ukuran Huruf:
https://youtube.com/shorts/_Rr_PIC-wqM
WARTABANJAR.COM - Jagat media sosial kembali dibuat heboh oleh sebuah video yang menampilkan bangkai pesawat Fokker 100 milik maskapai Merpati yang sudah tak lagi beroperasi. Bukan hanya karena kondisinya yang telah usang, tetapi karena terdapat logo Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Pemkab Kotim) terpampang jelas di badan pesawat tersebut.
Pesawat sepanjang kurang lebih 20 meter itu dikabarkan akan dijual oleh pemiliknya dengan harga sekitar Rp800 juta. Informasi tersebut mencuat dari akun Instagram @gudeal_pujangga pada Jumat (16/5/2025), yang memang dikenal kerap menjual bangkai pesawat untuk keperluan koleksi atau modifikasi.
Yang jadi sorotan, warganet mempertanyakan bagaimana logo resmi Pemkab Kotim bisa berada di badan pesawat komersial, yang notabene bukan aset pemerintah. Beberapa komentar menyebut adanya Memorandum of Understanding (MoU) di masa lalu antara Pemkab dan maskapai Merpati dalam bentuk subsidi turbin demi membuka akses penerbangan ke wilayah Sampit.
“Pernah naik ini, jenis Fokker100. Dulu ada MoU sama Merpati, katanya subsidi turbin biar bisa layani rute ke Sampit,” tulis akun @oniesimus_purnama.
Isu ini pun menimbulkan berbagai reaksi. Ada yang mengenang masa kejayaan Merpati, tapi banyak juga yang mulai mempertanyakan soal transparansi dan pengelolaan aset publik, khususnya apabila benar terdapat keterlibatan anggaran daerah dalam kerja sama tersebut.
Tak sedikit pula yang melihat peluang komersial dari keberadaan pesawat tersebut. Beberapa netizen mengusulkan agar bangkai pesawat dimanfaatkan sebagai tempat wisata, rumah makan tematik, atau bahkan dimuseumkan sebagai bagian dari sejarah transportasi di Kalimantan Tengah.
“Kalau dibuat jadi resto atau museum, bisa jadi ikon baru di Sampit,” komentar akun @novitasapran.
Namun sejauh ini, belum ada keterangan resmi dari Pemkab Kotim mengenai asal-usul keterlibatan logo tersebut di badan pesawat, ataupun keterkaitan langsung pesawat itu dengan pemerintah daerah. Ketiadaan informasi publik terkait perjanjian masa lalu dengan Merpati justru membuka ruang spekulasi baru.
Di tengah tren menjadikan bangkai pesawat sebagai properti komersial, penemuan ini seharusnya menjadi momentum bagi Pemkab Kotim untuk memberikan klarifikasi. Apakah benar pernah ada dana daerah yang digunakan untuk kerja sama ini? Jika iya, bagaimana pengelolaannya?
Yang jelas, di balik kehebohan video viral ini, publik mengharapkan lebih dari sekadar nostalgia. Ada pertanyaan penting yang perlu dijawab: jika aset publik terlibat, di mana pertanggungjawabannya? (vri/berbagai sumber)
#pesawat #merpati #kotim #wartabanjar