Wisata Bukit Sapu Angin di Kabupaten Tala Ditutup Sementara
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, PELAIHARI – Objek wisata Bukit Sapu Angin yang terletak tepat di belakang Kantor Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan ditutup sementara.
Keputusan ini berdasarkan menyusul kesepakatan warga setempat melalui rapat koordinasi yang digelar pada Selasa malam (6/5/2025) di rumah Ketua RT 09 Dusun 3, Desa Panyipatan.
Rapat tersebut melibatkan berbagai pihak, di antaranya Camat Panyipatan, KPH Tala, Bhabinsa, Bhabinkamtibmas, Kepala Desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga pemuda desa.
Baca Juga
VIRAL! Sopir Truk di Sarolangun Bawa Preman Bergelantungan di Spion, Gegara Kesal Sering Dipalak
Menurut Camat Panyipatan, Hadiat Wicaksono, penutupan ini bukan kebijakan pemerintah daerah, melainkan murni hasil kesepakatan masyarakat yang merasa resah atas sejumlah aktivitas yang dianggap meresahkan di lokasi wisata tersebut.
“Dari hasil rapat, rata-rata ingin wisata ditutup. Kami hanya memfasilitasi. Kesimpulan sementara ya ditutup dulu sambil menunggu kebijakan dari Pemkab,” ujar Hadiat saat dikonfirmasi tim Wartabanjar.com, Rabu (7/5/2025).
Salah satu alasan utama penutupan adalah rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) yang akan berdiri di kawasan sekitar Bukit Sapu Angin. Selain itu, status kehutanan yang belum tuntas juga menjadi pertimbangan.
“Itu sebenarnya ranahnya ke KPH ya, tapi untuk menjaga kondisi supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, tadi malam sudah disepakati ditutup dulu,” tambahnya.
Menariknya, objek wisata ini sebenarnya berada di ruang publik tanpa akses masuk resmi atau "pintu lawang". Hal ini membuat masyarakat merasa perlu adanya pembenahan dan kepastian dokumen terlebih dahulu sebelum dibuka kembali.
“Karena tidak ada pintu apapun ya, jadi belum tau nanti seperti apa. Itu ruang publik sebenarnya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Hadiat menegaskan bahwa tidak ada tindakan tidak senonoh yang tercatat selama ia menjabat, namun keresahan warga, tokoh agama, dan pemuda tetap menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan.
“Sementara ini belum ada ditemukan soal hal-hal yang tidak senonoh tersebut, tapi keresahan itu nyata dari masyarakat,” tuturnya.
Sebagai tindak lanjut, akan dilakukan sosialisasi ke masyarakat dan pengunjung agar tidak ada yang kecewa atau datang tanpa informasi. Sosialisasi akan diumumkan melalui media sosial hingga pengumuman fisik di lokasi jalur pendakian.
“Akan disampaikan terkait sosialisasinya, supaya jangan sampai nanti pengunjung datang kecewa. Kasian juga kan,” tandasnya.
Penutupan ini menegaskan bahwa keinginan masyarakat menjadi prioritas utama, dengan harapan situasi tetap kondusif dan tidak menimbulkan konflik di kemudian hari. (Gazali)
Editor Restu