WARTABANJAR.COM – Matahari pagi bahkan belum menunjukkan kegagahannya. Halaman Balai Kota DKI Jakarta sudah dipenuhi ratusan warga yang berdiri memegang map coklat berisi harapan.
Dari pemuda lulusan SMA, mantan pekerja pabrik, hingga ibu rumah tangga, mereka datang sejak subuh demi satu tujuan yang sama, yaitu mencoba peruntungan mendapatkan pekerjaan dengan gaji UMK Jakarta Rp 5.300.000.
Tak ada karpet merah, hanya lantai trotoar dan antrean panjang mengular. Pedagang minuman mulai berdatangan menjajakan dagangannya kepada para pencari kerja yang kehausan mengantre.
Semangat para pelamar pun tak surut, meski prosedur tak selalu jelas dan laman pendaftaran online tak kunjung aktif.
Cerita serupa datang dari Mario Mulyono (45 tahun), mantan pekerja pabrik yang kini mengandalkan penghasilan dari ojek online. Ia berharap PPSU bisa jadi pintu untuk mengubah nasib. Namun, alur pendaftaran yang belum jelas membuatnya kesulitan.
Bagi sebagian besar pelamar, PPSU bukan pilihan pertama, tapi satu-satunya yang tersisa. Siti Zulfa (29 tahun) sebelumnya bekerja sebagai penjaga toko di Mal Kota Kasablanka. Kontraknya diputus awal tahun ini, dan sejak itu ia bertahan dengan usaha kecil-kecilan.
Bagi Karina (36 tahun), lowongan ini adalah jalan kembali setelah rehat bekerja karena melahirkan. “Usia nggak dibatasin, diprioritaskan warga DKI. Saya sudah tiga hari ke sini, kemarin sudah dapat tanda terima,” katanya sambil menunjukkan dokumen-dokumennya.
Sementara itu, Sani (33 tahun), ibu rumah tangga yang mengetahui lowongan ini dari broadcast WhatsApp, menaruh harapan besar. (Thania Ang)
