BMKG Prediksi Puncak Kemarau 2025 ini Akan Terjadi Juni Hingga Agustus

Kedua fenomena tersebut (ENSO dan IOD) diprediksi akan tetap berada dalam fase Netral sepanjang musim kemarau 2025.

Sehingga, menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, maka musim kemarau tahun ini dengan kondisi iklim normal, tanpa pengaruh kuat dari iklim laut dari ENSO dan IOD.

“Namun demikian, bukan berarti tidak ada hujan karena ada beberapa wilayah Indonesia yang memiliki sifat musim kemarau di atas normal yang memungkinkan menerima akumulasi curah hujan musiman yang lebih tinggi dari biasanya,” katanya.

Dengan demikian, kesimpulannya adalah karena tidak adanya dominasi iklim global seperti El Nino, La Nina, dan IOD sehingga prediksi BMKG iklim tahun ini normal dan tidak sekering tahun 2023 yang berdampak pada banyak kebakaran hutan.

“Kemarau tahun 2025 ini cenderung mirip dengan kondisi musim kemarau tahun 2024,” kata Ardhasena.

Dwikorita mengimbau di sektor pertanian, agar dapat menyesuaikan jadwal tanam di wilayah-wilayah yang diprediksi mengalami musim kemarau lebih awal maupun lebih lambat, memilih varietas tahan kekeringan, serta mengoptimalkan pengelolaan air di daerah dengan musim kemarau lebih kering dari normal.

Sementara itu, wilayah yang berpotensi mengalami musim kemarau lebih basah dapat memanfaatkannya dengan memperluas lahan sawah untuk meningkatkan produksi pertanian.

Untuk sektor kebencanaan, pihak-pihak terkait bisa meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah rawan yang diprediksi mengalami musim kemarau dengan curah hujan Normal atau Bawah Normal.

“Kemudian sektor lingkungan, dapat mewaspadai memburuknya kualitas udara di kota-kota besar dan wilayah rawan karhutla, serta potensi gangguan kenyamanan akibat suhu udara panas dan lembap selama musim kemarau,” sarannya, dikutip dari laman resmi BMKG, Jumat (21/3/2025).

Di sektor Energi, disarankan sejak sekarang dapat menghemat dan mengelola pasokan air secara efisien untuk menjaga keberlanjutan operasi PLTA, irigasi, dan pemenuhan kebutuhan air baku, terutama di wilayah dengan musim kemarau Bawah Normal atau lebih panjang dari normal.

“Terakhir, di Sektor Sumber Daya Air bisa mengoptimalkan sumber air alternatif dan memastikan distribusi air yang efisien guna menjaga ketersediaan air bagi masyarakat selama musim kemarau,” ujar Dwikorita lagi.

Selain itu, pihaknya juga menghimbau agar informasi dalam Prediksi Musim Kemarau 2025 ini dapat dijadikan dasar dalam mendukung program asta cita melalui optimalisasi kondisi iklim sesuai dengan sumber daya di wilayah masing-masing. (berbagai sumber)

Editor: Yayu