Yahya Sinwar dianggap sebagai pemimpin paling kuat di Hamas, yang memutuskan semua masalah terpenting kelompok itu. Ia juga termasuk orang yang tegas menolak berunding dengan Israel sehingga menyebabkan proses perundingan perjanjian gencatan senjata di Gaza menemui jalan buntu.

Namun hanya dua bulan setelah menjadi pemimpin Hamas, hidup yahya Sinwar berakhir di reruntuhan bangunan di Rafah, Gaza selatan. Pasukan Israel menyerang sekelompok anggota bersenjata Hamas dengan melepaskan tembakan tank ke gedung tempat Sinwar bersembunyi. Serangan tersebut meruntuhkan sebagian bangunan dan menewaskan Yahya Sinwar.

Israel dan AS kemudian mengonfirmasi identitas Yahya Sinwar menggunakan tes DNA dan catatan gigi.(pwk)