PT Jhonlin Agro Raya Soft Launching B50, Mentan: Dukung Wujudkan Indonesia Mandiri Energi

Dengan demikian, kebutuhan minyak sawit untuk energi tidak menganggu kebutuhan untuk pangan, industri dalam negeri dan ekspor.

“Ini kekuatan kita. Krisis pangan dan energi, keduanya solusi ada di Indonesia. Indonesia akan jadi lumbung pangan dunia apabila kita lanjutkan dan konsisten ke depan, akan semakin kuat. Artinya kita mampu, Indonesia bisa menjadi pengendali pangan dan energi di dunia nantinya. Launching ini sebagai salah satu momentum tonggak sejarah. Sejarah baru bagi Indonesia,” papar Mentan.

Launching ini, tandas Andi Amran Sulaiman, dimaknai bahwa Indonesia itu mampu dan bisa semakin kuat sebagai negara yang memiliki ketahanan, kemandirian dan kedaulatan energi terutama yang bersumber dari energi baru terbarukan.

“Kita harus menjaga ketersediaan energi dan akses masyarakat terhadap energi terbarukan dengan harga yang terjangkau, serta tetap memperhatikan kelestarian lingkungan hidup,” tegas Mentan Amran.

Amran menambahkan, energi terbarukan terus diimplementasikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak penggunaan B15 ditahun 2015, B20 ditahun 2019, B30 ditahun 2022, hingga B35 saat ini sudah dijalankan sejak tahun 2023.

“Ke depan, melalui program prioritas energi nasional yaitu implementasi program biodiesel B50 dan Bioetanol E10, diharapkan penggunaan bahan bakar nabati (biofuel) terus mengalami peningkatan secara nasional, sehingga dapat menekan impor minyak mentah dan bahan bakar minyak atau BBM,” katanya.

Mentan Amran menegaskan bahwa pemerintah telah memulai inisiasi pemanfaatan minyak sawit pada program biodiesel sejak tahun 2019 dimana terdapat prototipe pengembangan biodiesel yang terbuat dari 100% minyak kelapa sawit (B100).

“Saya yakin prototipe dan uji-uji biodiesel serupa telah banyak dijalankan oleh Kementerian/Lembaga teknis dan Industri biodiesel walaupun masih terbatas untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sendiri,” ujar Mentan.

“Saat ini kami ditugaskan untuk mengawal kesiapan pemerintah untuk program implementasi biodiesel B50 tersebut, tidak hanya dari sisi supply pada kesiapan bahan baku CPO tetapi lebih luas lagi bahwa kami pada prosesnya menyiapkan dan mengidentifikasi secara cermat bersama dengan Kementerian ESDM terkait kajian teknis, ekonomi, fiskal, sarana prasarana, transisi B50, standar mutu dan spesifikasi, kajian bisnis, aspek legalitas hingga uji terap dan road test serta hal-hal teknis lainnya menuju implementasi biodiesel B50,” jelasnya.

Mentan Amran menambahkan penggunaan biodiesel ini dapat menghemat devisa negara untuk impor solar yang membebani keuangan negara rata-rata hingga Rp. 300-400 triliun per tahun.

Di sisi lain, lanjut dia, dengan pemanfaatan minyak sawit untuk B50 ini, sebagai upaya kita untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar ekspor sawit yang sering menghadapi kampanye negatif serta berbagai persyaratan yang mengganggu ekspor sawit nasional.

Menurut Mentan, jadi sudah jelas target kita adalah bersiap untuk implementasi penggunaan biodiesel B50. Melalui kegiatan soft launching ini akan menjadi catatan sejarah tersendiri sebagai pelopor implementasi B50 di tanah air.

“Terima kasih kepada semua pihak dalam mendukung setiap kebijakan dan program pemerintah, semoga ini menjadi bukti bahwa kita bersama-sama membangun bangsa tercinta ini sebagai negara yang perlu diperhitungkan oleh negara lain dan berhasil wujudkan kemandirian energi dan kemandirian pangan,” harapnya. (tim)

Editor: Erna Djedi