“Sebenarnya ndak ada alasan Kimia Farma merugi. Cuma akibat terjadi manipulasi keuangan dan lain sebagainya, inilah yang terjadi,” ujarnya.
Apalagi lanjut Husni, ketika masa pandemi COVID-19 hampir semua perusahan industri obat di seluruh dunia, mengalami keuntungan. Namun, ia heran kenapa Kimia Farma justru rugi.
Baca juga: Garuda Indonesia Langgar Perjanjian Kerja, Karyawan Ngadu ke DPR
“Apalagi pada masa Covid-19, boleh dikatakan ndak ada industri farmasi yang sakit, semua untung, semua happy. Saya ndak tahu alasannya apa pabrik mau ditutup sampai lima?” kata Husni tak habis pikir.
“Kalau inefisiensi, bikin efisiensi. Apalagi kita dengan 270 juta penduduk, industri obat ini mestinya naik, naik, dan terus meningkat. Begitu juga Bio Farma. Kenapa penjualannya naik, tapi keuntungannya menurun. Apakah disitu ada pemborosan, ada kesalahan dan lain sebagainya,” tambahnya menegaskan.
Baca juga: Cek Fakta Ustadz Tahfidz Dipukuli
Seperti diketahui, pada masa pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu, banyak dokter yang memberikan rujukan obat-obatan produksi Kimia Farma. Artinya, rujukan itu seharusnya meningkatkan angka penjualan produk BUMN farmasi itu. Dengan demikian seharusnya perusahaan itu mengalami keuntungan yang berlipat ganda, bukannya justru merugi. (Sidik Purwoko)
Editor: Sidik Purwoko





