Kedua, Ahok memang temperamental, yang kadang-kadang tabu di dalam politik, tetapi sesungguhnya adalah seorang yang nasionalis dilihat dari sejarah garis politiknya.
Ketiga, tidak ada lagi faktor pendorong keduanya ke arah radikal karena Anies sudah bisa tampil pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2024 dengan citra nasionalis religius biasa.
Keempat, Ahok juga akan bisa diterima publik dan massa fanatik Anis.
“Anies dan Ahok pasti berpikir positif jika paham gagasan seperti ini dari berbagai pihak yang hendak menjadikannya simbol kesatuan dari keduanya,” tandas Rektor Paramadina itu.
Adapun pembahasan menduetkan Anies-Ahok ini diketahui telah dibahas di internal PDI Perjuangan.
Baca juga: Badai Matahari Ekstrem Pertama dalam 20 Tahun Hadirkan Pemandangan Spektakuler di Langit
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto tak menampik bahwa dua nama itu diusulkan oleh Dewan Pimpinan Cabang maupun Dewan Pimpinan Daerah PDI Perjuangan.
Hasto mengatakan partainya saat ini masih menjaring calon gubernur dan wakil gubernur yang akan diusung di tingkat provinsi.
“Nama-nama akan tersaring sesuai dengan usulan dari daerah-daerah yang mohon maaf belum kami sebut karena masih melakukan proses pencermatan,” kata Hasto, Kamis, (9/5/2024).
Baca juga: Pengurus PKK Kelurahan Sekumpul Bagi-bagi Sembako Gratis untuk Masyarakat
Apa kata Anies?
Anies sendiri mengatakan belum memikirkan rencana untuk maju dalam Pilkada setelah kalah dalam Pilpres 2024. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini mengaku butuh istirahat. Begitupun ketika ditanya soal wacana menduetkan dirinya dengan Ahok.







