WARTABANJAR.COM, JAKARTA - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) sedang memperjuangkan pendiri institusi sandi negara, Mayjen TNI (purn) dr. Roebiono Kertopati (1914-1984) sebagai calon pahlawan nasional. Dalam peringatan Hari Sandi Nasional yang dihadiri Ketua Umum PB IDI Dr.dr. Moh. Adib Khumaidi, SpOT mengapresiasi inisiasi BSSN dan menyatakan dukungan PB IDI atas usulan itu kepada pemerintah pusat. Dukungan PB IDI karena almarhum Roebiono Kertopati telah mewujudkan trias peran dokter sebagaimana yang diteladankan Dr Wahidin Sudirohusodo, Dr Cipto Mangunkusumo, dr Soetomo dan para dokter pendiri bangsa yaitu dokter sebagai agent of change, agent of development dan agent of treatment. DR Dr Muhammad Isman Jusuf, SpN dari Departemen Kajian Sejarah dan Kepahlawanan Dokter Bidang Organisasi PB IDI menyampaikan bahwa sebagai Agent of Change, Roebiono Kertopati selalu terlibat dan ikut mewarnai setiap tonggak sejarah Republik Indonesia. “Di masa penjajahan Belanda, beliau melayani masyarakat terpencil yang mengalami gangguan kesehatan serius di Papua dan Maluku Utara," katanya seperti dikutip Wartabanjar.com. Baca juga: Hadiri Buka Bersama Ketua TKN Prabowo-Gibran, Begini Kata Puan: Begitu juga pada masa pendudukan Jepang, Roebioni melaksanakan tugas membantu para korban perang dan tawanan yang sakit. Sementara pada masa revolusi fisik dan perjuangan diplomasi, dirinya membuat sistem-sistem sandi untuk mengamankan komunikasi berita di medan peperangan, di dalam perundingan antara Pemerintah RI, Belanda, dan dengan PBB, pada komunikasi pemberitaan di perbatasan dan di dalam gerilya di pedalaman. "Di masa kemerdekaan, selain berperan sebagai abdi sandi, beliau memiliki peran yang besar dalam pengembangan tenaga atom dan telekomunikasi di Indonesia. Pada saat terjadi peristiwa G30S/PKI, beliau ditunjuk menjadi Ketua Tim Forensik Autopsi Tujuh Jenazah Pahlawan Revolusi.” paparnya. Roebiono Kertopati adalah seorang dokter kelahiran Ciamis, Jawa Barat pada 11 Maret 1914 dan merupakan alumnus Nederlands Indische Arts School (NIAS). Sebagai Agent of Development, dirinya turut berkontribusi dalam pembangunan bangsa melalui kiprahnya sebagai Kepala Lembaga Sandi Negara pertama yang menjabat hampir 38 tahun, sejak bernama Dinas Code (1946), Djawatan Sandi (1949), Lembaga Sandi Negara (1972) hingga wafatnya pada 23 Juli 1984. Baca juga: Kapolri dan Panglima TNI Pantau Kesiapan dan Pengamanan Arus Mudik Pelabuhan Gilimanuk Berbagai keberhasilannya di bidang persandian membuatnya diangkat menjadi ‘Bapak Persandian Nasional.’ Selain itu beliau pernah berkiprah sebagai dosen di PTIK dan Lemhanas (1965-1966), Ketua Dewan telekomunikasi indonesia (1966) dan ketua Dewan Pengawas Pembangunan RSPAD Gatot Soebroto (1971-1978). "Sebagai Agent of Treatment, Roebiono Kertopati mendapat penugasan sebagai dokter pemerintah di Merauke pada 13 November 1941. Pada September 1944 sampai Februari 1945, beliau ditugaskan di Morotai untuk memimpin pemberantasan penyakit malaria serta bekerja di rumah sakit Eugenie merawat 400 orang laki-laki, perempuan, dan anak-anak," katanya. Sejak Februari sampai Mei 1945 bertugas sebagai Service Garnizoen Art di Casino, NSV Australia dalam kesatuan DVG. Sejak Mei sampai Juli 1945 sebagai Chief Medical Depter Med. Service Rr Occopied Territory di Holandia-Nederlands Nieuw Guinea dalam kesatuan DVG. Baca juga: Orang Utan Muncul di Desa Habau Tabalong, Polres Tabalong Imbau ini Sejak Juli sampai Agustus 1945, Roebiono bertugas sebagai Senior Medical Ovb di Morotai-Maluku Utara. Dirinya ikut membantu mengurus tawanan perang dari Jepang di Jakarta dan Surabaya dalam kesatuan RAPWI (Recovery of Allied Prisoners of War and Internees). "Setelah RAPWI resmi dibubarkan di tahun 1946, Roebiono diangkat sebagai dokter pada Kementerian Pertahanan. Beliau juga dipercaya sebagai tim dokter kepresidenan di masa presiden Soekarno," katanya. Untuk diketahui, setiap tanggal 4 April, Indonesia memperingati Hari Sandi Nasional sebagai tonggak kelahiran cikal bakal lembaga sandi negara yang saat ini bernama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Sejarah mencatat bahwa pada pada 4 April 1946, Menteri Pertahanan saat itu, Amir Syarifoeddin memandang perlu adanya pengamanan komunikasi di Kementerian Pertahanan dan Angkatan Perang RI. Baca juga: BMKG Deteksi Bibit Siklon Tropis, Cuaca Ekstrem Beberapa Hari ke Depan Karena itulah dirinya memerintahkan seorang dokter yang bertugas di Kementerian Pertahanan yaitu dr. Roebiono Kertopati untuk membentuk Dinas Kode. Seiring berjalannya waktu, Dinas Kode beberapa kali mengalami perubahan nama diantaranya Djawatan Sandi (1949), Lembaga Sandi Negara (1972) dan tahun 2021 menjadi Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). (Sidik Purwoko) Editor: Sidik Purwoko