Menurut Bamsoet, Indonesia menjadi kompetitor utama karena memiliki prospek yang cerah untuk pengembangan kendaraan listrik ke depan. Hal itu lantaran Indonesia merupakan produsen nikel, bahan baku baterai kendaraan listrik.
“Terlebih, Indonesia merupakan negara penghasil nikel terbesar di dunia sehingga mendukung penuh pengembangan industri kendaraan listrik. Khususnya, dalam pembuatan baterai kendaraan listrik,” ujar pria yang juga Ketua MPR RI itu.
Berdasarkan data US Geological Survey, cadangan nikel Indonesia diperkirakan mencapai 21 juta metrik ton. Dari angka itu, 40 persen di antaranya tersebar di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara.
Sementara, merujuk pada catatan Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), produksi nikel dunia pada 2022 diperkirakan mencapai 3,3 juta metrik ton atau meningkat sekitar 21 persen dari produksi saat 2021. Produksi tersebut sebanyak 48 persen atau sekitar 1,6 juta metrik ton adalah produksi Indonesia.
Baca juga: Lempar Kucing ke Laut, Dua Content Creator Asal Jepara Ditangkap Polisi
Dirinya optimistis, Indonesia akan menjadi salah satu pemain utama dalam memproduksi kendaraan listrik mengingat baterai merupakan komponen kunci untuk kendaraan listrik. Tentunya komponen itu berkontribusi sekitar 25-40 persen dari harga kendaraan listrik. Dengan fakta tersebut, Indonesia berpotensi menjadi poros utama untuk pengembangan olahraga dan industri otomotif berbasis listrik di dunia.
Saat ini Universitas Indonesia melalui Supermileage Vehicle Team, telah berhasil membuat prototipe mobil listrik bernama Arjuna. Bobot Arjuna sangat ringan karena material bodinya terbuat dari serat karbon. Arjuna mampu melaju hingga jarak 194,19 kilometer per kilo watt hour (km/kWh).

