Pengamat Sebut Hak Angket Sulit Digelar Karena Faktor Ini

Baca juga: Gunung Semeru Erupsi Sebanyak 3 Kali, Dampak Gempa Tuban?

Sementara itu, pengamat akuntansi forensik dari Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) UGM, Rijadh Djatu Winardi, berpendapat dari segi ekonomi, pasar cenderung menginginkan agar pemilu berlangsung dalam satu putaran.

“Kehadiran hak angket menciptakan ketidakpastian, yang bisa meresponsnya secara negatif, terutama pasar modal. Survei dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan mayoritas pelaku pasar lebih memilih pemilu yang selesai dalam satu putaran,” ungkap Rijadh.

Menurutnya, saat ini para investor masih menahan diri untuk berinvestasi di Indonesia, terutama investor asing dengan modal besar, yang akan menunggu perkembangan situasi politik di dalam negeri. (Sidik Purwoko)

Editor: Sidik Purwoko