WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN- Sekarang sedang ramai di Indonesia, kasus dua orang food vlogger me-review makanan di sebuah warung yang kemudian merembet menjadi pembeberan informasi pribadi food vlogger tersebut, body shaming hingga berujung pelaporan ke polisi. Kasus ini juga melibatkan food vlogger ternama Indonesia, Farida Nurhan alias Omay. Karena kasus ini, tayangan podcast yang menampilkan Chef Juna Rorimpandey sebagai bintang tamu yang tayang 2 tahun lalu kembali viral. Dalam sebuah podcast yang tayang di kanal YouTube musemediaid itu, Chef Juna membahas soal kekesalannya kepada para food vlogger atau food blogger yang kerap me-review makanan jualan pedagang tanpa dasar ilmu yang tepat. Menurutnya, mereka seakan asal me-review sehingga bisa saja itu merugikan pemilik dagangan. Menurutnya lagi, para food vlogger yang seperti ini adalah orang-orang sok tahu alias sotoy. "Dari dunia kami itu, dunia chef dan F&B industry sudah ternodai dengan orang-orang yang sok jadi foodie, food vlogger, cecet berecet yang sotoy, dan sebagainya, itu merusak hidup kita," katanya di tayangan podcast tersebut. Dia melanjutkan, contohnya adalah seperti yang kerap dilakukan food vlogger. "Maksudnya merusak lebih ke establishment. Food vlogger, mereka-mereka ini yang tidak jelas, maksudnya latar belakangnya, who the fuck are you analyze our food when you don't know shit? gitu loh," ujarnya lagi. Kemudian, food vlogger itu berani membuat ulasan tentang makanan yang di-review tersebut tanpa dasar ilmu yang tepat dan mumpuni. Dia memisalkan di zaman dulu, di Amerika Serikat ada food blogger yang memang dipekerjakan atau disewa oleh media massa seperti koran untuk rubrik makanan. Mereka me-review makanan lalu dibuat ulasannya berupa blog untuk ditampilkan di media tersebut. Menurutnya, ini masih benar karena para food blogger itu bekerja sebab dibayar dan dipekerjakan oleh orang-orang atau lembaga yang berwenang serta paham di bidang kuliner. Berbeda dengan zaman sekarang yaitu zaman media sosial, siapa pun jadi bisa mengunggah apa saja tanpa dipertimbangkan terlebih dahulu. "Mereka bisa ngoceh, ngalor ngidul apa saja, nge-rate makanan kita apa saja tanpa mereka tahu kita tuh membangun usaha tersebut banting tulang setengah mati dan pengorbanan yang banyak, hanya karena mereka nggak ngerti atau ekspektasi yang ternyata hasilnya beda lalu mereka bikin ulasan atau rate-nya jelek," paparnya lagi. Berikut ini tayangan lengkapnya,