Dari sisi pemerintah, mereka menuduh hakim dari golongan aktivis semakin merebut peran parlemen, dan mengatakan perombakan diperlukan untuk memulihkan keseimbangan antara peradilan dan politisi terpilih.
Para kritikus mengatakan hal ini akan menghilangkan keberimbangan pemeriksaan yang menopang negara demokratis dan menyerahkan kekuasaan yang tak terkendali kepada pemerintah.
“Ada kalimat dari Alkitab, dari ratapan Daud, yang mengatakan ‘Bagaimana pahlawan jatuh’. Dan sebenarnya, pertanyaannya sekarang berubah menjadi bukannya ‘Bagaimana pahlawan jatuh?’ , tapi jadi ‘Untuk apa?’,” ujar pengacara berusia 63 tahun David Gilat kepada Reuters.
Sebuah jajak pendapat yang dirilis oleh penyiar publik Israel pada hari Jumat menemukan bahwa rencana tersebut sangat tidak didukung masyarakat, 53% responden mengatakan mereka yakin rencana tersebut akan merugikan negara.
Selain itu, 60% penduduk Israel mengatakan pemerintah tidak mewakili mereka dan 48% percaya situasi di negara itu akan terus memburuk.
Di Tel Aviv tengah, selama 16 minggu berturut-turut, massa berkumpul untuk menentang rencana itu sebagai ancaman eksistensial terhadap demokrasi Israel. Mereka mengibarkan bendera biru-putih Israel yang telah menjadi ciri khas protes selama tiga bulan terakhir. (berbagai sumber)
Editor: Erna Djedi







