53 Unit Rumah untuk Ahli Waris Korban Kapal Selam Nanggala-402 Rampung

Kapal ini juga diawaki oleh Letkol Heri Oktavian sebagai komandan kapal selam.

Pada 22 April, Laksamana Pertama Julius Widjojono mengatakan bahwa cadangan oksigen di Nanggala masih cukup bagi 53 orang hingga Sabtu, 24 April pukul 03.00 WITA.

Juru bicara TNI Angkatan Laut, Laksamana Pertama Julius Widjojono mengumumkan bahwa tiga kapal perang yaitu KRI Diponegoro (365), KRI Raden Eddy Martadinata (331), dan KRI I Gusti Ngurah Rai (332) beserta tim penyelam telah dikerahkan.

Janes Defence News melaporkan bahwa beberapa kapal perang lainnya juga dikerahkan menuju lokasi pencarian.

Kementerian Pertahanan mengatakan bahwa pemerintah Singapura, Australia, dan India telah merespons permintaan bantuan yang dikirimkan oleh Pemerintah Indonesia.

Angkatan Laut Republik Singapura mengerahkan bantuan kapal MV Swift Rescue, sementara Angkatan Laut Kerajaan Malaysia mengerahkan kapal MV Mega Bakti menuju lokasi pencarian di Laut Bali.

Hingga Kamis, 22 April, TNI AL telah mengerahkan enam kapal lain menuju area pencarian.

Kapal-kapal tersebut adalah KRI Dr. Soeharso, KRI Hasan Basri, KRI Satsuin Tubun, KRI Singa, KRI Hiu, dan KRI Layang.

Yudo Margono mengatakan bahwa tiga kapal selam, lima pesawat, dan 21 kapal perang telah dikerahkan menuju area pencarian per Kamis, 22 April.

Kapal selam KRI Alugoro (405) juga telah bergabung dalam operasi pencarian.[51] KRI Rigel (933), sebuah kapal perang dengan perangkat sonar yang lebih kuat, diperkirakan tiba pada 23 April 2021

Kepolisian Negara Republik Indonesia mengirim empat kapal kepolisian yang dilengkapi dengan sonar dan robot kendali jarak jauh (ROV).

Sekitar pukul 07.00 WIB, pemantauan udara menemukan tumpahan oli di sekitar lokasi terduga hilangnya kapal selam.

Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Achmad Riad melaporkan bahwa tumpahan oli telah teramati di beberapa lokasi.

Ia juga menambahkan bahwa KRI Raden Eddy Martadinata telah mendeteksi pergerakan di bawah air dengan kelajuan 2,5 knot (4,6 km/jam), tetapi objek tersebut menghilang sebelum dapat diidentifikasi.

Yudo Margono mengungkapkan bahwa TNI AL telah mendeteksi objek dengan “resonansi magnetik kuat” pada kedalaman 50 hingga 100 meter.

Pada 24 April, TNI AL mengumumkan bahwa Nanggala dinyatakan tenggelam.[7][61] Sebelumnya, ditemukan puing-puing berupa pelurus tabung torpedo, pembungkus pipa pendingin, pelumas periskop, dan alat salat.[62] Puing-puing tersebut diduga berasal dari KRI Nanggala karena ditemukan hanya sejauh 10 mil laut (19 km; 12 mi) dari titik kontak terakhir dan tidak ada kapal lain yang berada di area tersebut.[63][d]

Pada 25 April, TNI AL menyatakan bahwa 53 orang yang berada di KRI Nanggala gugur.

Pemindaian yang dilakukan oleh KRI Rigel melakukan pemindaian menggunakan multi beam sonar dan telah menghasilkan citra bawah air yang lebih detail. Pada hasil citra tersebut ditunjukkan beberapa bagian kapal selam, termasuk kemudi vertikal belakang, jangkar, bagian luar badan tekan, kemudi selam timbul, dan baju keselamatan awak kapal MK11.

ROV dari MV Swift Rescue juga mendapatkan kontak visual bangkai kapal dan menemukannya terbelah menjadi tiga bagian. Bangkai kapal berada di koordinat 7°48′S 114°51′E pada kedalaman 838 meter,[1][68] jauh di bawah kedalaman operasi maksimumnya yakni 500 meter.

Pada 27 April 2021, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Yudo Margono menyatakan bahwa TNI akan melibatkan SKK Migas untuk mengangkat badan kapal KRI Nanggala (402).

Pelibatan SKK Migas dalam misi pengangkatan ini didasari atas kemampuannya di bidang pengeksplorasian minyak dan gas bumi lepas pantai.

SKK Migas akan mengerahkan Kapal Timas DSV 1201 yang dirancang sebagai kapal konstruksi di perairan dangkal maupun dalam dan memiliki alat yang mampu menyelam hingga 3.000 meter serta menangani pipa berlapis beton setebal 60 inci. (edj/berbagai sumber)

Editor: Erna Djedi