WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Kementerian PUPR telah menyelesaikan pembangunan 53 unit rumah khusus (rusus) bagi ahli waris para Prajurit KRI Nanggala 402 di Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Rusus yang telah diserahterimakan pada April 2022 lalu tersebut memiliki 4 tipe yakni tipe 90 dengan luas tanah 320 m2, tipe 72 dengan luas tanah 280 m2, tipe 54 dengan luas tanah 280 m2, dan tipe 45 dengan luas tanah 236 m2.
Satu unit tipe 90 diperuntukkan bagi perwira tinggi, 7 unit tipe 72 bagi perwira menengah, 10 unit tipe 54 bagi perwira pertama, dan 35 unit tipe 45 meter untuk prajurit bintara dan tamtama.
Rusus ini dibangun di atas tanah seluas kurang lebih 2 ha pada Agustus 2021 sampai Januari 2022 lalu.
Pembangunan rusus tersebut merupakan instruksi Presiden Jokowi sebagai bentuk perhatian dan penghargaan dari pemerintah bagi para prajurit KRI Nanggala-402 yang gugur di medan tugas.
KRI Nanggala-420
Kapal selama KRI Nanggala-402 hilang kontak sebelum akhirnya dinyatakan tenggelam (subsunk) di perairan Bali pada Sabtu (24/4/2022).
Kapal selam buatan Jerman ini telah memperkuat satuan di TNI AL selama 40 tahun.
KRI Nanggala (402), juga dikenal sebagai Nanggala II, merupakan kapal selam kedua dalam jenis kapal selam kelas Cakra Tipe 209/1300.
KRI Nanggala berada di bawah kendali Satuan Kapal Selam Komando Armada II.
Kapal ini termasuk dalam armada pemukul TNI Angkatan Laut dan merupakan kapal kedua yang menyandang nama Nanggala dalam jajaran TNI AL.
KRI Nanggala (402) hilang kontak pada Rabu, 21 April 2021 saat melakukan latihan penembakan torpedo di Laut Bali bersama 53 awaknya.
KRI Nanggala kemudian dinyatakan tenggelam pada Sabtu, 24 April 2021 oleh TNI AL setelah ditemukannya puing-puing yang diduga berasal dari kapal selam tersebut.
Nama Nanggala berasal dari nama senjata tombak kuat milik tokoh pewayangan Prabu Baladewa.
Senjata tersebut digambarkan di lencana KRI Nanggala.
Kapal selam ini juga dikenal sebagai Nanggala II untuk membedakannya dengan KRI Nanggala S-02, sebuah kapal selam lain yang usianya lebih tua.
Pada 21 April 2021, Panglima Tentara Nasional Indonesia Marsekal Hadi Tjahjanto mengumumkan bahwa KRI Nanggala telah gagal melaporkan statusnya setelah melakukan latihan penembakan torpedo di Laut Bali, sekitar 95 km (51 mil laut) di utara Pulau Bali.
TNI AL menyatakan bahwa KRI Nanggala meminta persetujuan pada pukul 03.00 WIB untuk menyelam dan menembakkan Torpedo SUT.
Pada pukul 04.00 WIB, KRI Nanggala memasuki tahap penggenangan tabung torpedo. Komunikasi terakhir dilakukan pukul 04.25 WIB ketika komandan gugus tugas latihan memberikan persetujuan bagi Nanggala untuk menembakkan torpedo nomor 8.
Tjahjanto mengatakan bahwa mereka hilang kontak dengan kapal selam tersebut pada pukul 04.30 WIB.
TNI AL kemudian mengirimkan panggilan bahaya (distress call) ke International Submarine Escape and Rescue Liaison Office sekitar pukul 09.37 WITA untuk melaporkan adanya kapal yang hilang dan memiliki kemungkinan tenggelam.
TNI AL juga menjelaskan kemungkinan KRI Nanggala mengalami mati listrik sebelum tenggelam ke kedalaman 600 hingga 700 meter.
Saat dilaporkan hilang, KRI Nanggala membawa 53 orang yang terdiri dari 49 awak, 1 komandan, dan 3 spesialis senjata.
Kolonel Harry Setyawan merupakan awak yang memiliki pangkat tertinggi.






