Yandex Google-nya Rusia Terancam Bangkrut Gegara Perang Rusia-Ukraina

Sementara itu, pasar saham Moskow akan tetap tutup setidaknya sampai Selasa (8/3/2022) nanti.

Yandex juga mengatakan bahwa mereka secara keseluruhan saat ini tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk menebus Notes secara penuh.

Yandex mungkin juga harus berjuang memindahkan dana dari bisnis operasi utamanya di Rusia untuk menyelamatkan perusahaan induk mereka di Belanda karena sanksi Barat dan kontrol modal yang diperkenalkan oleh Rusia minggu ini, yang bertujuan untuk melestarikan cadangan mata uang asing yang berharga dan mencegah perusahaan internasional membuang aset mereka.

Pemberi pinjaman terbesar Rusia, Sberbank terpaksa menutup cabang Eropanya awal pekan ini setelah dicegah oleh bank sentral Rusia mengirim uang ke anak perusahaannya yang berbasis di Wina, Austria menyusul laporan bahwa mereka kehabisan simpanan.

“Jika kami dicegah untuk mendistribusikan dana tambahan dari anak perusahaan kami di Rusia ke perusahaan induk di Belanda, Yandex tidak akan memiliki sumber daya yang cukup untuk menebus sebagian besar Notes,” kata perusahaan teknologi itu.

Hal tersebut tentu saja dapat memengaruhi kemampuannya untuk memenuhi kewajiban keuangan lainnya.

Krisis di Ukraina menimbulkan ancaman lain bagi bisnisnya.

Perusahaan-perusahaan Barat menghentikan pasokan teknologi dan layanan kepada para pelanggan di Rusia.

Penangguhan penjualan perangkat keras atau perangkat lunak yang berkepanjangan dapat merugikan Yandex dalam jangka panjang.

“Kami percaya bahwa kapasitas pusat data kami saat ini, dan teknologi lain yang penting untuk operasional akan memungkinkan kami untuk terus beroperasi di jalur biasa, setidaknya selama 12 hingga 18 bulan ke depan,” kata Yandex.

Yandex memiliki nilai pasar sekitar USD17,4 miliar pada awal Februari, melaporkan pendapatan senilai 356 miliar rubel (sekitar Rp 53,3 miliar) pada tahun 2021.

Setelah mata uang Rusia jatuh, pendapatan mereka anjlok setara dengan kurang lebih USD3 miliar (sekitar Rp 43,1 triliun). (brs/berbagai sumber)

Editor: Yayu Fathilal