Mengantisipasi hal tersebut, Abas terpaksa harus mengurangi penggunaan bahan-bahan pokok yang lainnya, agar dapat menyesuaikan dengan kenaikan harga minyak goreng.
“Jadi seperti penggunaan telur kita kurangi, terus seperti tempe goreng, yang biasanya 1 bungkus itu kita buat 10 potong, sekarang kita buat 12 potong. Karena kalau harus menaikkan harga dagangan, takutnya pembeli malah menurun,” tutur pria yang sudah berdagang gorengan selama 6 tahun itu.
Ia juga membeberkan, kalau kenaikan kali ini merupakan kenaikan yang paling tertinggi dari pada kenaikan-kenaikan sebelumnya.
“Kalau sebelum-sebelumnya itu, naiknya paling 2-3 ribu saja, tapi sekarang sampai 8 ribu lebih naiknya,” beber Abas
Ia juga berharap, agar pemerintah atau pihak terkait bisa segera menindak terkait masalah kenaikan harga minyak goreng tersebut.
“Semoga harga minyak goreng bisa kembali normal, karena kalau seperti ini terus, kami para pedagang dan juga para warga kecil yang kasihan,” pungkas Abas. (qyu)
Editor: Erna Djedi







