Sang ulama itu terbangun.
Ia menangis sejadi-jadinya. Ia sangat menyesal mengabaikan janda Syarifah miskin beserta anak-anaknya yang hanya sekedar meminta pertolongan. Esok harinya, ulama itu pergi mencarinya.
Berhari-hari ulama itu mencari keberadaan sang Syarifah itu.
Bertanya ke sana ke mari. Hingga, didapatlah kabar sekarang Syarifah itu telah mendapatkan tempat tinggal sementara di rumah seorang tokoh pemuka agama Yahudi.
Sang ulama mengatakan, “Serahkan Syarifah yang tinggal di rumahmu itu padaku, biar aku saja yang menampungnya”.
Namun, sang pemuka Yahudi itu menolak menyerahkan Syarifah dan anak-anaknya.
Bahkan, tokoh Yahudi itu telah memberikan separuh bagian rumahnya untuk ditinggali selamanya oleh Syarifah dan anak-anaknya.
Sang ulama terheran-heran mengapa pemuka Yahudi itu begitu ngotot mempertahankan syarifah itu.
Apa untungnya baginya? Bukankah dia dan Syarifah itu berbeda agama? Pikir sang ulama itu.
Sang tokoh Yahudi mengatakan, “Wahai ulama, dulu aku tidak percaya pada Nabi Muhammad, tapi tadi malam beliau datang menemuiku dan mengucapkan terima kasih atas bantuanku menolong anak cucunya yang sedang dalam kesusahan.
Beliau telah memberikan jatah istana indah di surga itu padaku. Maka saksikanlah aku berikrar: “Asyahadu alla ilahaillallah wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”. Aku bersaksi tiada ada tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”
Sebenarnya dari kisah diatas kita wajib menolong siapapun yang kesusahan baik dari dzuriat Nabi atau orang biasa bahkan yang non Muslim sekalipun Karena itu yang diajarkan Baginda Rasulullah SAW.
Semoga kita diselamatkan dari membenci sesama Umat Nabi Muhammad dan keturunan Rasulullah SAW.
Penulis Ustadz Muhammad Rijal Fathoni menyebutkan, ada sebuah Hadits dari Nabi Muhammad SAW. yang berbunyi :
Barangsiapa yang membantu, menolong, serta mengabulkan hajat anak cucu Abdul Muthalib namun mereka tidak mampu membalasnya, maka Aku yang akan membalasnya (katanya Baginda Nabi). (*)
Editor : Hasby







