Ikatlah dengan simpul mati agar lebih aman.
Limbah ini hanya bisa disimpan dalam wadah tertutup maksimal dua hari sejak dihasilkan.
Hana Nur Auliana, Head of Communication & Engagement Waste4Change, mengingatkan perlunya memperhatikan juga kesejahteraan serta keselamatan para pekerja yang mengurus sampah.
Sebab, sama seperti tenaga kesehatan yang berhadapan dengan risiko terinfeksi COVID-19, pekerja sampah juga menghadapi risiko terpapar bila limbah COVID-19 dibuang tidak seperti seharusnya.
Dia mengatakan, masih minimnya perlindungan seperti ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) untuk pekerja sampah bisa membahayakan mereka.
Berdasarkan data internal Waste4Change pada 2019 di Jakarta, sebanyak 50,8 persen masyarakat tidak memilah sampah dan 49,2 persen masyarakat memilah sampah.
Di tengah pandemi, dia menyarankan setidaknya pilah sampah medis rumah tangga seperti masker medis, sarung tangan medis, tisu bekas mucus dan peralatan makan sekali pakai pasien COVID-19 dari sampah rumah tangga lainnya.
Jika ingin lebih detail, Hana memaparkan lima kategori sampah ala Waste4Change yang bisa diterapkan di rumah.
Pertama, sampah organik seperti sisa makanan, buah, sayur, daun dan ranting tanaman.
Sampah organik ini bisa juga diolah menjadi kompos yang berguna untuk para pencinta tanaman.
Kedua, sampah daur ulang seperti botol atau gelas plastik, kantong plastik, kemasan makanan, botol kaca, alat tulis plastik, kaleng, kertas hingga karton.
Ketiga, sampah medis rumah tangga.
Keempat, limbah bahan berbahaya dan beracun seperti sampah elektronik, tinta printer, bola lampu dan limbah medis.
Terakhir, sampah residu seperti sachet busa, tekstil, tisu basah, plastik yang dikotori minyak, karton atau kertas dari kemasan makanan yang basah juga stirofoam. (ant)
Editor: Yayu Fathilal







