Misalnya ayah dan ibu bekerja di ruang kerja atau di kamar tidurnya dengan jadwal pukul 09.00-17.00 WIB, sementara anak belajar di ruang tamu atau di kamarnya mulai pukul 07.00 WIB-13.00 WIB, setelahnya ia bisa bermain atau mengerjakan tugas sekolah hingga orang tua selesai bekerja.
Selama jam itu baik anak maupun orang tua dilarang saling menganggu sehingga saling memahami batasan kegiatan.
Pastikan ada waktu jeda atau istirahat sehingga kegiatan keluarga tidak terabaikan saat berada di dalam rumah.
“Jadi bukan berarti orang tua bekerja dari rumah itu benar-benar mendampingi anaknya PJJ, perlu ada ruang kerja yang berbeda juga antara orang tua dan anak sehingga tidak saling mengganggu. Nah di masa jeda bisa saling memperhatikan, orang tua bisa mengapresiasi anak ketika ada pencapaian yang diraih, ini penting loh sehingga anak bisa menumbuhkan kemandirian. Jeda ini pun bisa dilakukan bersama-sama dengan cara yang menyenangkan bisa streching bersama di ruang tamu, atau tidur siang 15 menit agar bisa produktif lagi,” dokter Ade menyarankan.
Setelah jadwal selesai, pastikan baik anak dan orang tua sama-sama mengakhiri waktunya di depan laptop atau gadget-nya dari kegiatan virtual baik sekolah dan bekerja sehingga bisa menjalani waktu keluarga dengan maksimal.
Selama waktu keluarga berlangsung, agar tidak bosan orang tua harus aktif berkreativitas sehingga anak juga bisa mendapatkan stimulasi yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangannya.
Tidak harus menggunakan barang-barang yang rumit untuk beraktivitas bersama dengan anak di waktu keluarga, jadikan kegiatan sehari-hari di rumah seperti memasak atau bersih-bersih rumah sebagai cara menghadirkan waktu berkualitas dan juga cara mendidik anak.
Psikolog Ratih mencontohkan beberapa kegiatan yang bisa dilakukan di antaranya mencuci piring bersama, membuat kue bersama, atau pura-pura berjemur layaknya di pantai di halaman rumah.
“Kegiatan semacam itu, selain membantu meringankan pekerjaan rumah orang tua juga membantu anak mendapatkan stimulasi yang baik. Jangan lupa diapresiasi sehingga anak bisa terus menciptakan pencapaian yang lain dan semangat untuk beraktivitas bersama keluarga,” ujar Ratih.
Lalu bagaimana jika orang tua tetap merasa jenuh atau stres meski sudah menerapkan semua metode di atas?
Sebagai dokter yang bergerak menangani masalah kesehatan pekerja, dokter Ade menyarankan agar orang tua pun bisa mencari dukungan tambahan atau mencari “ventilasi” ke orang-orang terdekat yang dipercaya.
Menurutnya wajar jika orang tua merasa tertekan, karena saat ini memang masa-masa yang sulit.
Baik ayah atau pun bunda perlu bercerita ke “ventilasi” yang dipercaya seperti kepada adik atau pun sahabat agar bisa merasa lebih lega.
Bahkan, jika merasa perlu ayah dan bunda bisa berkonsultasi ke tenaga medis yang tepat sehingga mendapatkan penanganan.
“Stres itu normal. Kita ga mungkin di masa ini terus menunggu badainya lewat, ini adalah saatnya kita dance in the rain, menari bersama badainya. Menikmati situasi yang ada bersama-sama dengan keluarga,” ujar dokter Ade.
Situasi pandemi COVID-19 menjadi titik balik bagi hampir seluruh individu di muka bumi, meski terasa berat bagi orang tua namun rupanya selalu ada hal baik di balik musibah ini.
Meski sulit dijalani, orang tua tetap harus mengingat tanggung jawabnya mengurus hal-hal yang terbaik untuk keluarga dan buah hati.
Jadikan masa sulit ini sebagai langkah menguatkan jalinan antara orang tua dan anak serta pasangan sehingga pada akhirnya tantangan ini menjadi hal yang bisa dilewati. (ant)
Editor: Erna Djedi







